Setelah SMA, dengan sedikit memaksa aku ingin kuliah di Bandung. Sedikit banyak jiwa pemberontakanku mulai nampak. Aku bersikeras dengan keinginanku, meskipun pada awalnya kedua orangtua berusaha keras menolak.
Di Bandung, awal-awal aku duduk di bangku kuliah, aku merasakan sebagai sosok lelaki yang kerdil. Dalam hati, aku seakan tidak dapat menerima pergaulan dengan mereka yang tidak bergaya hidup pas-pasan. Aku merasakan dapat menempatkan diri di tengah mereka. Entah mengapa, aku cenderung memilih-milih pergaulan.
Tipikal yang menjadi temanku adalah mereka yang bergaya hidup wah. Aku cenderung menjauh dari pergaulan yang gaya hidup pas-pasan. Hal ini dikarenakan perasaan superiority complex yang ada di benakku. Dari pakaian yang dikenakan atau gaya bicara, aku dapat menilai, apakah mereka anak orang kaya sepertiku atau tidak.
Ketika itu usiaku sudah 20 tahun. Belakangan, aku merasakan cocok dengan salah seorang teman yang bernama Tony. Kunilai dia anak orang kaya di kota lain terlihat dengan gemerlap kehidupannya yang suka sekali berfoya-foya. Kulihat lama-kelamaan dia pun seakan menunjukkan sikap yang cocok berteman denganku. Kami pun berteman baik. Namun di balik kebanggaanku bergaul dengannya, disitulah aku langkahkan kaki ke jalan yang salah untuk melangkah. Aku terlibat dalam pergaulan yang salah dan tidak wajar. Lambat laun, aku terbawa arus nakal Tony dan beberapa temannya.
Kehidupanku yang gelamor dan banyak uang, seakan memuluskan jalan untuk berbuat seenaknya. Dari mulai minum-minum di beberapa cafe ataupun bar, menghisap ‘gele’ ataupun ‘ganja’ sampai ‘putaw’. Tidak hanya itu, pergaulanku yang akrab itu belakangan membawaku pada keinginan ‘main’ dengan ABG yang kami booking dari pinggir jalan utama kota kembang ini.
Dari semua pengalaman yang tadinya didasari rasa coba-coba dan ingin tahu itu, lama-kelamaan membuatku keranjingan. Kenakalanku tidak itu saja, melalui Tony pula aku diperkenalkan dengan seorang tante-tante yang umurnya kutaksir 35 tahun. Sebut saja namanya Tante Mia. Wanita itu, namanya membekas sampai sekarang, karena dialah wanita yang kuanggap mampu mengubah jalan hidupku. Dia wanita yang pertama kali kupeluk, kucium, dan juga wanita yang pertama kalinya yang tidur bersamaku.
Sebenarnya, Tante Mia adalah isteri seorang pengusaha kaya. Karena sering kali kesepian akibat urusan bisnis suaminya, mengharuskan Tante Mia banyak ditinggal sendirian di rumah. Suaminya kerap kali melancong ke luar kota bahkan ke luar negeri dalam waktu lama.
Awal perkenalan kami terjadi di sebuah cafe di sebuah hotel ternama di kawasan pusat kota di Bandung. Petang itu, aku datang bersama Tony yang lebih dulu akrab dengan Tante Mia. Sebenarnya aku tidak mengira kalau temanku itu sengaja menyodorkanku untuk memuaskan nafsu birahi Tante Mia. Semua itu baru terungkap saat temanku mohon diri dengan alasan ada kepentingan mendadak. Jadilah kami hanya menikmati lembutnya alunan musik live berduaan saja. Awalnya, hanya sekedar ngobrol sana-sini, namun satu ketika Tante Mia mengisyaratkan satu tingkah nakal. Tak pelak sebagai lelaki normal, semua itu mengundang birahiku. Rasanya klop sudah, saat dia menawarkanku untuk menginap di hotel dimana dia telah booking kamar.
Aku yang awalnya merasa ragu, akhirnya tidak berkutik, aku pun bagaikan kerbau dicocok hidungnya. Kuiyakan saja semua permintaan Tante Mia, termasuk keinginannya mengajaku menginap di hotel. Dalam hati aku berpikir, rasanya sangat disayangkan jika semuanya ini disia-siakan. Meskipun tubuhnya tidak terlalu tinggi untuk seukuran wanita indonesia, wajahnya yang bersih dan terawat, menyiratkan bias kecantikannya. Gaya bicaranya yang mirip dengan yang dikatakan ABG kekinian, menambah kecentilan Tante Mia.
Kuungkapkan keraguan jika nantinya Tony datang dan mencari kami dimana dia meninggalkan kami berdua di cafe tersebut, namun semua kekhawatiran itu hanya ditanggapi dengan senyum tenang dan menawan yang merekah di kedua bibir Tante Mia. Dia pun meyakinkanku bahwa Tony tidak akan kembali ke cafe lagi. Dapat ditebak apa yang akan terjadi, jika lelaki normal yang telah dewasa berduaan di dalam kamar bersama wanita cantik dan matang, yang ada tentu kobaran nafsu yang menggelora. Dan benar saja, hubungan badan pun terjadi di antara kami.
Dibelainya rambutku, didekapnya tubuhku yang tak berbalut selembar kain pun. Dadaku dielus dan diciumi dengan penuh nafsu. Saling pagut dan raba pun tidak terelakkan lagi. Kemudian apa yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh suami-istri itu bersama Tante Mia dengan nafsu yang bergelora itu pun terjadi. Tidak hanya sekali, aku melakukannya saat malam itu. Tenaga Tante Mia yang sangat liar memacu gelora birahi. Aku merasa begitu tersanjung, sekaligus banyak belajar dari Tante Mia. Sungguh aku merasakan ada pengalaman baru dan sangat mengesankan yang selama ini belum pernah kualami.
Kurasakan juga bagaimana gelora birahinya yang menggebu. Aku merasa tertantang untuk mengimbanginya. Dan ternyata aku berhasil memuasinya. Ini dikatakannya sendiri oleh Tante Mia. Setelah puas dengan permainan binal Tante Mia di atas ranjang, kembali kegundahan menyeriangi di benakku. Kepada Tante Mia kuwanti-wanti untuk tidak menceritakannya kepada Tony ataupun siapa saja. Namun dia hanya tersenyum tipis menghadapi kegundahanku.
“Kenapa mesti risau..? Tony adalah kekasih gelapku juga. Dalam waktu-waktu tertentu, dengan senang hati dia melayaniku..” kata Tante Mia.
Setelah itu, jadilah aku mulai ikut berpetualang sebagai pemuas nafsu seks, kukejar perasaan nikmat dan gairahku dengan Tante Erlyn, Tante Sofia, Tante Sally, dan beberapa tante lainnya.
Aku pun seakan dimanjakan oleh mereka dengan limpahan uang yang datangnya bagaikan air yang mengalir. Namun aku memiliki langganan yang mengaku sangat terkesan dengan pelayananku. Dia seorang dokter di Jakarta. Perkenalanku terjadi saat di suatu sore tiba-tiba HP-ku berdering. Dengan dalih untuk dipijat tubuhnya, suara wanita itu menginginkan agar aku datang ke sebuah hotel di kawasan jantung kota Bandung. Aku pun meluncur ke hotel yang dimaksud.
Sore itu menjadi awal bagi permainan yang panas dengan sang dokter yang sedang mengikuti seminar di Bandung ini. Dokter yang berwajah cantik itu sangat ganas memperlakukanku, nafsu birahinya yang besar membuatku kewalahan. Tidak hanya di tempat tidur saja dia menginginkan permainan panas denganku. Itu semua dilakukan di sofa ruang tamu kamar hotel, di kamar mandi, ataupun di kaca rias kamar suite yang disewanya itu. Setelah puas, baru ia memberiku banyak uang, Dan rasanya itulah rekor bayaranku yang kuterima sebagai gigolo pemuas nafsu. Dia pun barjanji akan kembali lagi untuk memintaku untuk melayaninya.
Benar saja, beberapa bulan kemudian sang dokter itu kembali lagi ke Bandung, kali ini dia tidak sendiri, melainkan membawa 2 orang temannya yang mengaku Tante Lusi, dan Tante Nina. Setelah aku diminta melayani mereka bertiga, aku pun melakukannya dengan baik hingga mereka puas. Tidak hanya sekaligus kami bertiga bermain, melainkan aku melayaninya satu persatu. Keesokan paginya mereka pun kembali ke Jakarta.
Tetapi alangkah terkejutnya aku, minggu kemudian sang dokter kembali lagi bersama temannya kembali, kali ini hanya seorang, dia bernama Tante Siska. Seperti sebelumnya, dia meminta kupuasi nafsu seksnya, sebelum akhirnya memintaku untuk melakukan hal yang sama terhadap temannya itu.
Kali ini dalam benakku ada berbagai pertanyaan, “Ada apa di balik keanehan ini..?”
Dalam suatu kesempatan, terbukalah tabir rahasia itu. Menurut Tante Siska teman sang dokter itu, dia adalah salah satu anggota arisan yang bandarnya adalah Ibu dokter itu. Mereka beranggapan bahwa aku lah pria yang dipilih, dan yang paling hebat, dan kuat dalam memuasi mereka. Jadi aku dijadikan komoditi arisan seks oleh mereka yang terdiri dari istri pengusaha dan pejabat. Gila, betapa terkejutnya aku mendapat jawaban itu. Namun aku berusaha mengendalikan kegundahanku, aku tidak perduli dengan perasaanku, toh aku mendapat imbalan jasa yang sangat besar dari mereka. Dan aku pun dapat memanfaat uang tersebut untuk kuliahku.
BUYYYY
DONATE
100% Non-Fiktif
Aku, Suamiku, dan Anak kost
Aku wanita 'udik' 23 tahun, telah berkeluarga dan punya satu anak lelaki umur 2 tahun. Aku memang kawin muda, 18 tahun. Begitu tamat SMU Aku dinikahkan dengan pria pilihan orang tua. Suamiku, sebut saja Bang Mamat namanya (samaran) waktu menikah denganku usianya 35 tahun, sudah mapan, punya usaha sendiri. Kenapa Aku mau menerima lamaran seorang pria yang 17 tahun lebih tua. Pertama, karena Aku memang dididik untuk patuh kepada orang tua dan Aku anak tunggal. Kedua, lingkunganku di pedalaman selatan Jakarta memang mengharuskan gadis seusiaku segera menikah. Ketiga, Bang Mamat memang baik hati. Dia begitu sibuk mengurus usahanya sampai "lupa" mencari calon isteri. Keempat, meskipun Aku punya banyak kawan lelaki dan beberapa diantaranya naksir Aku, tapi semuanya hanya sebagai teman biasa saja. Tak satupun yang pernah Aku "jatuhi" cintaku, kecuali seseorang yang sempat mengisi hatiku, tapi banyak halangan (nanti Aku ceritakan tentang Mas Narto ini). Pendeknya, Aku belum punya pacar. Kelima, Aku termasuk tipe penyayang anak-anak. Sudah banyak anak-anak tetangga yang Aku "pinjam" untuk kuasuh. Aku ingin menjadi seorang Ibu.
Tahun-tahun pertama masa perkawinanku memang membuatku bahagia. Bang Mamat begitu mengasihiku, penyabar, penuh pengertian. Apalagi setelah Si Randy, anak kami lahir, rasanya Aku adalah ibu yang paling bahagia di jagat ini. Bang Mamat juga sangat menyayangi anak lelakinya. Makin semangat mengurusi usahanya yang akhir-akhir ini terkena dampak krisis ekonomi. "Aku berjanji akan bekerja keras hanya untuk kamu dan Randy," katanya suatu ketika. Terharu Aku mendengarnya. Aku berterimakasih kepada orang tuaku telah mempertemukan Aku dengan Bang Mamat. Menikah dengan pilihan orang tua memang tak selalu pilihan yang salah.
Kerja keras Bang Mamat dan anak buahnya membuahkan hasil. Perusahaannya telah berhasil memperluas pasar sampai Kualalumpur dan Chiang-mai. Krisis ékonomi tak hanya berdampak buruk, tapi malah membuat produk usaha kami jadi mampu bersaing dalam harga. Keberhasilan ini membawa dampak lain, yaitu pada Aku sendiri. Waktu Bang Mamat banyak tersita oleh pekerjaaannya, sehingga mengurangi waktu buatku. Apalagi Randy sudah dapat "dilepas", Aku jadi punya banyak waktu luang. Aku sering kesepian. Dalam sepi ini Aku sering mengharapkan Bang Mamat pulang, lalu mencumbuku, dan diteruskan dengan hubungan seks yang nikmat. Ya, akhir-akhir ini kehidupan seks kami jadi meredup. Bang Mamat menjadi jarang memberiku "nafkah bathin", jarang menyetubuhiku.
Kehidupan seks-ku waktu remaja boleh dibilang "kuno". Kawan lelaki banyak, pacaran baru sekali, itu pun secara back street, diam-diam, karena orang tua tak memberi restu. Cara berpacaranpun tak seperti remaja kota jaman sekarang sampai tidur bersama sewa hotel. Kami hanya sekedar cium-ciuman dan meraba-raba. Sehingga dengan Bang Mamat suamiku-lah hubungan seks-ku yang pertama kulakukan. Kepada Bang Mamatlah keperawananku kupersembahkan.
Kadang Aku menangis sendiri dalam sepi, ingat beberapa tahun lalu Bang Mamat begitu menggebu-gebu melumatku sampai Aku terasa melayang-layang, mandi keringat dan lalu kelelahan. Itu dilakukannya hampir setiap hari. Bahkan dikala libur, Bang Mamat "minta" beberapa kali dalam sehari. Senyum sendiri Aku ketika ingat kejadian pagi di hari libur, kami bersetubuh di ruang tamu dan hampir "tertangkap basah" oleh anak buah Bang Mamat. Aku dan Bang Mamat sedang duduk-duduk santai di ruang tamu. Hari libur itu suamiku sedang menunggu stafnya yang akan melapor hasil penjualan bulan berjalan. Kami duduk saling merapat, lalu mulailah Bang Mamat mencumbuiku. Diciuminya seluruh wajahku, lalu leherku. Tangannya mulai menyusup ke dasterku. Dengan lembut disentuhnya puting dadaku, sentuhan lembut beginilah yang membuatku terhanyut. Lalu diremasnya buah dadaku perlahan. Aku mulai terrangsang. Bang Mamat memang nakal. Dipelorotkan sarungnya, dan nongollah batang penisnya yang amat tegang. Aku tak menyangka dia tak memakai celana dalam. Rasanya sehabis "permainan pagi" tadi kami mandi dan Bang Mamat mengambil pakaian dalam lalu pakaian kebesarannya : oblong dan sarung. Entah kapan dia melepas cd-nya. Ditariknya tanganku ke selangkangannya, kubelai-belai penisnya dengan penuh perasaan. Sementara Aku sendiri tambah terangsang.
Bang Mamat cepat-cepat melucuti pakaianku, lalu sarung dan oblongnyapun telah tergeletak di lantai. Kami telah telanjang bulat. Aku ingin Bang Mamat segera "mengisi" selangkanganku yang telah melembab. Kutarik Bang Mamat ke kamar.
"Di sini aja deh," katanya menahan tarikanku.
"Gile Bang, dilihat orang," protesku.
"Engga akan kelihatan dari luar deh," sahutnya. Ruang tamu kami memang ada jendela kaca lebar, tapi tertutup viltrage. Pandangan dari luar memang tak bisa menembus ke ruang tamu.
"Kunci dulu dong pintunya." Bang Mamat melepaskan tindihan ke tubuhku, bangkit menuju pintu. Pria telanjang bulat dengan penis yang tegang, lalu berjalan adalah suatu pemandangan yang agak lucu, walaupun hanya beberapa langkah.
Aku mempersiapkan diri. rebah terlentang di sofa, sebelah kakiku terjuntai ke lantai. Sebelah lagi Aku angkat ke sandaran sofa.
"Oh .....! " Bang mamat terperangah melihat posisiku. Ditubruknya Aku. Dibenamkan mukanya ke selangkanganku. Nafsuku makin memuncak ketika kurasakan "kilikan" lidah bang Mamat di bawah sana. Untung Bang Mamat segera tahu bahwa Aku sudah "siap". Dia bangkit, bertumpu pada kedua lututnya di antara kedua pahaku, mengarahkan "si gagah" ke mulut vaginaku. Aku memejamkan mata menunggu saat-saat nikmat ini.............
Tiba-tiba pintu diketuk. Bang Mamat bangkit, urung penetrasi. Secara refleks Aku menyambar daster dan menutupi tubuh telanjangku. Dari posisi rebahku ini Aku bisa melihat melalu kaca jendela lebar, seseorang berdiri di depan pintu. Pak Sakir (samaran juga) pagi ini memang diundang suamiku untuk melapor. Aku langsung beranjak sambil memunguti bra dan cd-ku, tapi Bang Mamat mencegahku sambil menutup jari telunjuknya di bibir. Lalu, hampir tanpa suara dia kembali merebahkan tubuhku, membuka pahaku lebar-lebar, lalu mulai menusuk. Aku harus menutup mulutku dengan telapak tangan dan berusaha mati-matian untuk tak mendesah, apalagi merintih. Padahal, pompaan bang Mamat enak dinikmati sambil mendesah, melenguh, merintih, bahkan teriak! Apa boleh buat, kondisi tak mengijinkan. Aneh juga rasanya. Kami sedang asyik menikmati seks, sementara beberapa meter di dekat kami, berdiri seseorang menunggu, sambil sesekali mengulang mengetuk pintu, tak tahu apa yang sedang kami lakukan. Tak tahu? Entahlah. Orgasmeku tak optimal, sebab tak "lepas", harus menutup mulut. Tak apalah, toh nanti malam kami akan lakukan lagi. Aku cepat-cepat memunguti pakaianku yang berserakan di lantai, lalu masuk kamar. Bang Mamat menemui Pak Sakir hanya dengan belitan handuk di pinggangnya, seolah bersiap mau mandi.......
***
Rheina "Ipeh" Mariyana Rheina Maryana pemeran "Ipeh" di Bagito (Sumber: satulelaki.com) Pembaca, perkenankan saya flash-back dulu, agar Anda mendapatkan gambaran yang utuh tentang diriku.
Masa remajaku cukup menyenangkan. Aku banyak dikenal di lingkungan sekolah, terutama cowoknya, karena Aku gampang bergaul. Dari banyak teman cowok, beberapa di antaranya pernah mengungkapkan cintanya kepadaku, atau meminta Aku jadi pacarnya. Tapi semuanya Aku jawab sama, cuma berteman, Aku belum ingin terikat. Mereka mengatakan Aku mirip Ipeh, itu lho yang suka nongol bareng Bagito waktu melawak sebagai bintang tamu (makanya aku pinjam namanya).
"Tapi kamu lebih seksi," kata mereka. Seksi apanya? Mereka tak mau terus terang mengatakannya. Akhirnya Aku tahu sendiri. Bila Aku sedang jalan-jalan, di Mall atau gedung bioskop, atau jalan kaki dari halte bus ke rumah dan sebaliknya, bila berpapasan dengan cowok, Aku perhatikan mereka, terutama cowok dewasa, setelah menatap mukaku matanya langsung menuju dadaku. Mungkin bentuk dadaku ini sehingga mereka mengatakan Aku seksi?
(Di kemudian hari penegasan tentang hal ini Aku dapatkan dari Mas Narto, cowok yang sempat mengisi hatiku). Mulanya Aku memang tak menyadari akan "kelebihan"ku ini. Bentuknya sama dengan umumnya buah dada, dua bulatan kembar. Tapi setelah hampir setiap mata cowo mengarah ke sini, Aku jadi memperhatikan, apanya sih yang menarik perhatian mereka? Ukurannya barangkali. Kalau kami rombongan cewe pulang sekolah jalan-jalan di Mall mampir ke lingerie-corner, bra yang kubeli memang nomornya paling besar. Menyadari hal ini, Aku jadi lebih berhati-hati mengenakan pakaian atasan. Kalau tak perlu benar Aku jarang memakai atasan yang ngepas, sebab tonjolan kembarnya makin nyata, walaupun bra yang kupilih jenis yang tipis .....
Ayah, Ibu, dan Aku menempati rumah di selatan Jakarta ini secara turun-temurun. Ini memang rumah warisan dari kakek. Rumah sederhana tak begitu besar, 4 kamar tidur, hanya halamannya cukup luas yang ditumbuhi banyak pohon rambutan dan belimbing. Waktu Aku SD dulu lingkungan kampung ini amat sepi. tapi sekarang setelah wilayah ini berkembang menjadi lokasi pendidikan, banyak kampus baru dibangun, dari perguruan tinggi yang terkenal sampai institusi pendidikan yang kampusnya hanya "ruko" serta berbagai macam kursus, daerahku jadi ramai. Pembangunan kampus-kampus diikuti oleh pembangunan usaha ikutannya seperti restoran, warung makan (segala jenis makanan ada), toko buku dan alat tulis, usaha fotokopi, wartel dan warnet, kantor pos, bank, dan tentu saja usaha kost.
Rumah kami sering didatangi mahasiswa yang ingin kost, sewa kamar, atau ngontrak. Ayah tak pernah menerimanya.
"Tanggung," kata Ayah. "Cuma punya satu kelebihan kamar."
Sampai pada suatu saat Ayah terpaksa menyewakan kamar yang kosong itu, karena diminta oleh sahabat Ayah yang tinggal di Bandung untuk anaknya, Didin. Didin tinggal setahun lagi menyelesaikan kuliahnya. Aku masih di SMP. Ketika Didin menamatkan kuliahnya dan cabut dari rumah pindah ke Jakarta, kamar diisi lagi oleh anak lelaki kawan Ayah yang tinggal di Salatiga, Narto (bukan nama sebenarnya) namanya. Aku masuk SMU.
Awalnya tak ada apa-apa antara Aku dan Mas Narto. Aku mulai tertarik karena Narto sebagai anak kost bersedia membantu Ayah, Ibu dan Aku, selain karena dia cerdas. Aku serasa mendapatkan guru privat untuk mata pelajaran Matematika, Fisika dan Kimia. Dia pernah usul pada Ayah untuk mengembangkan rumah kami menjadi kost-kost-an memanfaatkan lahan kosong yang terletak di samping-depan rumah. Desain kamarnya dia bikin, bisa jadi 20 kamar kalau 2 lantai.
"Biayanya dari mana?" kata Ayah.
"Pinjam dari bank, Pak."
"Emang gampang minjem duit di bank."
"Ada persyaratannya, memang. Sertifikat rumah untuk borg, dan proposal usaha."
"Proposal apa?"
"Saya dan teman-teman yang bikin proposal," ujar Narto.
Hitung-hitungan Mas Narto, kami bisa mendapatkan penghasilan lumayan dari usaha ini setelah dipotong cicilan dan bunga bank disamping bisa memberi pekerjaan paling tidak untuk 2 orang. "Saya jamin kamar akan selalu terisi," tambah Mas Narto meyakinkan Ayah. Untuk hal ini Aku sependapat dengan Mas Narto. Rumah kami memang letaknya strategis, tak jauh dari jalan raya, tapi cukup hening dan teduh, lingkungan yang hijau. Tapi ayah masih pikir-pikir, belum mengiyakan.
Mas Narto selalu ada waktu buatku kalau Aku nanya-nanya PR ketiga mata pelajaran itu. Penjelasannya malah lebih enak dibanding guruku, mudah dimengerti. Aku bebas saja keluar masuk kamarnya. Sudah biasa kalau Aku mendapati Mas Narto hanya bercelana pendek di kamarnya. Kadang Mas Narto juga masuk ke kamarku, dengan seijinku. Pernah ketika Mas Narto masuk ke kamarku dan kami ngobrol sambil Aku terus melipat lengan di dadaku. Aku baru saja selesai mandi dan belum sempat mengenakan bra, hanya t-shirt saja. Aku dan juga seisi rumah menganggap kami seperti kakak-adik. Anehnya, kalau Mas Narto liburan semester dan pulang kampung, aku merasa sepi, Aku merindukan kehadirannya. Sebaliknya, bila teman sekolah (cowok) main ke rumah, roman muka Mas Narto menunjukkan rasa kurang senang. Sampai suatu ketika, ternyata Mas Narto menganggapku bukan sekedar adik saja .....
Sore itu kami sedang membahas satu soal PR Fisika yang rumit di kamarnya. Aku tercenung memandangi soal, tak tahu apa yang musti Aku buat, sementara Mas Narto sibuk membongkar buku referensi. Ketemu catatan kuliahnya. Kami meneliti tulisan tangan yang sebagian kabur itu, sehingga wajah kami begitu berdekatan. "Ketemu caranya ..!" teriak Mas Narto kegirangan, lalu tiba-tiba dia mengecup pipiku. Aku sejenak kaget dan terpana. Tempelan bibir Mas Narto pada pipiku barusan terasa sampai di dalam dadaku, berdebar-debar. Berbeda rasanya dengan ciuman pipi dari pamanku, misalnya. Mas Narto tampaknya juga kaget sendiri atas kelancangannya. Matanya tajam menatapku. Lalu tangannya mengelus pipiku bekas kecupannya tadi. Terus tangannya bergeser ke daguku, diangkatnya daguku. Aku masih terpana, tak berreaksi. Pun ketika dia menunduk mendekatkan wajahnya ke mukaku. Detik berikutnya bibirnya telah menempel di bibirku. Aku merasa aneh. Belum pernah seorang pria sampai mencium bibirku. Aku mendorong bahunya sampai ciuman terlepas. Entah mengapa, Aku jadi pengin marah. Mas Narto tahu situasinya, cepat-cepat dia memegang tanganku dan meminta maaf.
"Sorry ya Ipah ....." hanya itu yang keluar dari mulutnya.
"Kenapa Mas seberani itu ?"
"Karena Mas sayang ama kamu, Ipah ...maafin Mas ya ..". Kenapa Aku harus marah? Ucapannya barusan tak mengagetkanku. Aku telah menduganya dari perilakunya selama ini, begitu perhatian padaku. Jujur saja, Aku juga mulai menyayanginya.
"Okay deh Mas, Ipah maafin."
"Mas sayang ama kamu."
"Iya, Ipah tahu."
"Apa jawabmu, Ipah?"
Aku diam. Rasanya berat mau bilang, 'Ipah sayang juga'. Tak sepatahpun keluar dari mulutku.
"Ipah ....?"
"Entahlah Mas ...." sahutku, tapi Aku merebahkan kepalaku di dada Mas Narto. Lalu Mas Narto mencium bibirku lagi, kali ini Aku tak menolak, tapi masih pasif. Saat kurasakan nikmat menjalar ke kepalaku, Aku mulai membalas lumatannya. Mas Narto makin semangat ..... Sore itu Aku merasakan ciuman pertamaku.
***
Pertemuan-pertemuan kami berikutnya selalu dihiasi dengan cium-ciuman. Bahkan Mas Narto mulai berani meraba-raba tubuhku. Pertama kali telapak tangan Mas Narto menyusup ke dalam bra ku kurasakan hanya geli. Tak ada enaknya. Begitu pula ketika jari-jarinya menyentuh puting dadaku. hanya geli. Tapi lama kelamaan, Aku menikmati isapan mulut Mas Narto di puting dadaku. Enak, serasa melayang, dan lalu kurasakan basah di bawah sana.
"Dadamu bagus" pujinya berulang-ulang.
Pelajaran lain yang kudapat adalah tentang ketegangan tubuh Mas Narto.
Kami sedang duduk di karpet kamarku bersandar pada dinding sambil berciuman. Aku bermaksud meraih pinggangnya mau kupeluk, tapi Mas Narto menggeser duduknya sehingga tanganku menyentuh selangkangannya. Sekilas Aku merasakan sesuatu yang keras di balik celana pendek Mas Narto. Kembali Aku meraih pinggang, tapi Mas Narto menahan tanganku untuk tetap di situ. Bahkan menuntun tanganku untuk mengusap-usap di daerah sana. Aku menurut saja. Sambil terus berpagutan bibir, kini tanganku dituntun ke pinggangnya. Aku peluk erat. Aku merasakan tangan Mas Narto kembali ke selangkangannya dan melakukan sesuatu. Aku tak bisa melihat apa yang dilakukannya, karena kami terus saling melumat bibir. Beberapa saat kemudian, tanganku diambil dari pinggangnya kembali ke selangkangan. Aku kaget. Telapak tanganku merasai benda keras dan hangat. Ciuman terlepas. Mas Narto memang nakal. Tadi dengan diam-diam dia melepas rits celana dia, melorotkan cdnya dan mengeluarkan "isi"nya. Baru kali ini Aku melihat kelamin lelaki dewasa yang sedang tegang. Melihat sesungguhnya, bukan hanya gambar. Dengan wajah "tanpa dosa" Mas Narto menuntun tanganku untuk mengocok penisnya. Dan anehnya, Aku nurut saja. Juga ketika dengan agak kasar dia membuka bra-ku dan menciumi putingku. Sampai akhirnya lenganku, sampai atas, serasa diciprati cairan hangat. Mas Narto ejakulasi. Entah apa yang kurasakan waktu itu. campuran antara rasa aneh, jijik, rasa bersalah, tapi juga sedikit kepuasan telah mengantarkan Mas Narto sampai ke puncak ejakulasi.
Hanya begitulah pacaran kami yang paling "liar". mas Narto tak pernah memaksakan kehendaknya. Apa yang aku larang, dia menurut. Suatu siang di kamarnya yang terkunci, kami bercumbuan sampai "panas". mas Narto sudah telanjang bulat. Dia juga telah berhasil melepaskan jeansku. Ketika cdku hendak dilepaskannya pula, dengan tegas Aku menolak.
"Mas engga akan berbuat itu, Yang ..." katanya sambil terengah.
"Iya, Ipeh tahu. Tapi engga Mas"
"Pengin ciumin aja"
"Engga Mas, engga"
"Lihat aja deh, sebentar"
"Mas!" seruku sambil melotot.
Dia lalu seperti tersadar, dan minta maaf. Dia tak pernah mengulangi permintaannya yang bagiku nyeleneh itu. Satu permintaan nyelenehnya lagi adalah waktu Aku, seperti biasa, hendak melepaskan ketegangannya dengan mengonaninya. Tanganku baru mulai mengelusi penisnya ketika dia minta hal yang tak biasa.
"Yang ...... bisa engga."
"Napa?"
"Jangan pake tangan."
"Lalu?" tanyaku lugu.
"Dikulum....."
Aku marah, sehingga batal untuk membuatnya ejakulasi. Sejak itu dia tak pernah lagi minta dikulum. Bahkan kelak dengan Bang Mamatpun (suamiku) Aku tak pernah melakukannya. Tapi justru dengan pria lain ini Ortuku tak menangkap perubahan hubunganku dengan Mas Narto. Mereka masih menganggap hubungan kami sebagaimana kakak beradik. Akupun takut bercerita hal ini kepada Ortuku. Aku khawatir mereka tak merestui hubunganku ini. Yang jelas Aku makin sayang kepada Mas Narto. Kami memang saling mencintai.
Akhirnya Ayah memutuskan untuk membangun tempat kost, tapi hanya 10 kamar, satu lantai saja. Mas Narto menyambut gembira keputusan Ayah ini, bersama groupnya dia membuat proposal dan mengajukan kredit ke bank. Hanya dalam waktu 8 bulan bangunan telah selesai. Bangunannya memang sederhana, tapi kuat, dan biaya yang dicukupkan dengan dana kredit. Letaknya di samping kanan agak ke depan dari rumah utama dan bersambung dengan pintu tengah rumah. Terdiri dari 10 kamar, ada ruang tamu di tengahnya, 2 kamar mandi. Mas Narto benar, tanpa beriklan seluruh kamar telah disewa oleh mahasiswa. Sepuluh orang cowok semua. Selama pembangunan kamar kost itu Mas Narto semakin dekat dengan Ayah. Sehingga ketika kuliahnya selesai dan meraih gelar insinyur, tanpa ragu dia melamarku melalui Ayah. Mas Narto kelihatan amat terpukul ketika lamarannya ditolak Ayah.......
***
Entah kenapa dalam usiaku yang 23 tahun ini Aku jadi begitu "membara". Aku ingin Bang Mamat melumatku setiap malam, Aku memimpikan hal itu, bagai kehausan yang tak kunjung puas. Mimpi tinggallah mimpi. Kenyataannya Bang Mamat semakin tenggelam mengurus usahanya. Dia menyetubuhiku seminggu sekali, di hari libur. Sementara Aku menginginkan setiap hari. Pernah suatu malam menjelang tidur Aku kepingin banget. Aku coba mulai mengelus-elus tubuhnya, dengan "kode" begitu Bang Mamat telah mengerti bahwa Aku menginginkan hubungan seks. Dengan halus dan sembari meminta maaf Bang Mamat menolak, capek katanya. Dia memang benar-benar capek setelah seharian bekerja keras. Sebentar kemudian dia telah lelap. Tinggal Aku sendiri, susah tidur dan akhirnya hanya bisa menangis.
Suatu pagi telepon berdering.
"Ipah?"
"Iya benar, siapa nih?" sahutku
"Mas Narto". Kaget Aku bukan main. Sejak Aku menikah dengan Bang Mamat, Aku sudah melupakan lelaki ini. Sudah hampir 4 tahun tak ada kabar, kini dia tiba-tiba menelepon. Ada apa?
"Hai! Ada angin apa nih tiba-tiba nelepon?" tanyaku.
"Emmm ... Ayah ada Pah?"
"Udah berangkat dong, kenapa gitu."
"Gini ..... Eh, anaknya udah berapa sekarang?" Mas Narto mengalihkan pembicaraan.
"Satu dong, laki, hampir 3 tahun, Mas sendiri gimana?"
"Masih seperti yang dulu, belum laku."
"Ah, masa?"
"Bener!" Aku terdiam. Rasanya Aku ikut bersalah.
"Ipah?"
"Ya Mas."
"Tolong sampaikan ke Ayah ya, ada temen Mas mau lihat-lihat tempat kost."
"Udah penuh tuh Mas."
"Bukan mau kost, dia mau bikin tempat kost, mau lihat hasil karyaku dulu."
"Kalau cuman itu langsung aja Mas ke sini, engga perlu bilang Ayah dulu, pasti beliau izinkan."
"Bener nih? Kita mau ke situ, sekarang."
Tiba-tiba Aku jadi berdebar. Bingung, bagaimana Aku harus bersikap menemui mantan kekasihku ini. Jelas harus berbeda dibanding dulu. Kini Aku sudah dimiliki orang. Kembali terbayang masa-masa kami pacaran dulu. Dengan dialah Aku pertama kali berciuman. Juga dialah orang yang pertama kali menciumi buah dadaku. Juga milik dialah Aku pertama kali melihat dan merabai kelamin lelaki. Untung hanya itu, tak berlanjut, sehingga Aku bisa menyerahkan perawanku kepada suamiku.
Tak seperti biasa, selesai mandi Aku bingung memilih-milih pakaian apa yang akan kukenakan. Biasanya Aku hanya memakai daster karena memang jarang bepergian, lebih banyak di rumah. Kalaupun keluar rumah Aku memilih blouse biasa dipadu dengan rok panjang atau celana panjang, tak berani memakai blouse atau kaos ketat karena mata para lelaki yang nakal. Bang Mamat juga kurang suka kalau Aku menonjolkan bentuk dadaku di luar rumah. Sebaliknya, Mas Narto senang kalau Aku mengenakan blouse atau kaos ketat. Untuk menyambut Mas Narto, apakah sebaiknya Aku mengenakan yang ketat? Ah, tidaklah. Meskipun Aku ingin, tapi nanti bisa menimbulkan kesan tak baik. Akhirnya Aku pilih blouse yang tak begitu ketat dan rok panjang.
"Pa kabar?" sapa Mas Narto ramah sambil mengulurkan tangan. Wajahnya tak berubah, masih tampan. Hanya badannya agak gemukan "Baik aja, Mas". Tanganku digenggamnya erat. Mas Narto datang dengan 2 lelaki. Lelaki yang satu Aku telah kenal, Si Adi, dia dulu asistennya sewaktu membangun kamar kost. Yang satu lagi kawannya yang mau lihat-lihat bangunan. "Okey Di, langsung antar aja Pak Bambang lihat-lihat. Sama Adi aja ya Pak Bambang, udah lama engga ketemu sama Ipah, pengin ngobrol" "Okay, gak pa-pa" kata Pak Bambang. Berdua mereka beranjak. Mas Narto duduk lagi, Aku duduk di sofa berseberangan dengan Mas Narto.
"Ibu ada?"
"Kan pergi sama Ayah."
"Bang Mamat?"
"Lagi mengabsen nih ceritanya?"
"Ha .. ha ....kamu engga berubah juga. Eh... ada yang berubah ding."
"Apanya ?"
"Udah jadi Ibu, makin cantik aja ...." Mungkin mukaku jadi merah. Tapi terus terang Aku senang dipuji oleh Mas Narto.
"Kenalin Aku sama si Kecil dong."
"Lagi dibawa main ama pengasuh, Mas."
"Oo .... jadi kamu sendirian."
"Iya ....emang kenapa?"
"Ah engga, cuman ingat 4 tahun lalu." Ada seberkas senyum nakal di wajahnya. Dulu kami memang cari kesempatan sepi begini untuk bercumbu. Aku menghela nafas panjang. "Bentar ya Mas, eh, mau minum apa?" kataku mengalihkan perhatian. "Apa aja yang kamu bikin Mas mau." Aku buatkan teh manis panas kesukaannya. Sewaktu Aku kembali ke ruang tamu, Mas Narto telah pindah duduk, di sofa. Dan ketika Aku meletakkan cangkir di meja dengan sedikit membungkuk, Aku merasa Mas Narto menatapi dadaku. Aku kembali ke tempat dudukku semula, jadi kami duduk bersebelahan. Kami ngobrol, kebanyakan bercerita masa lalu yang manis. Tiba-tiba Mas Narto mencengkeram kedua lenganku.
"Ipah ...." matanya tajam menatapku. Aku diam deg-degan. Mendadak tanpa kuduga Mas Narto mencium bibirku. Nekat juga ini orang. Beberapa detik Aku merasai lumatan bibirnya di mulutku, lalu Aku berontak, kudorong tubuhnya.
"Mas! Sadar engga sih kamu!"
"Pah ..... Mas gak bisa ngelupain kamu, hanya kamu wanita satu-satunya di hatiku."
"Ipah tahu Mas, tapi sekarang Ipah milik Bang Mamat ...."
"Berilah Aku kesempatan buat melepas rindu, Yang ..." katanya lagi.
"Mas .... Ipah isteri orang lho .... gak boleh gitu dong."
"Sekedar melepas kangen, Yang ..." katanya sambil mendekat lagi. Tahu-tahu bibirnya sudah mendarat di mulutku. Aku mengelak, tapi mulutnya terus mengejarku tubuhnya memepet tubuhku. Tak bisa lain aku menyerah. Kubiarkan bibirnya melumati bibirku. Tangannya merangkulku. Aku langsung teringat di sofa ini dia pernah juga mengulumiku. Kenangan yang indah. Mas Narto terus menciumiku, perasaan nikmat mulai menjalar. Tak boleh berlanjut. Kudorong lagi tubuhnya. Mas Narto makin memperketat pelukannya. Tangannya mulai meremasi dadaku. Percuma saja Aku berontak, Mas Narto lebih kuat. Lagi pula Aku mulai menikmati serangannya setelah jari-jari Mas Narto mengelusi puting dadaku.
Oh .... dia telah membukai bra-ku! Harus stop, tak boleh berlanjut.
Tapi rasa nikmat manjalar di dadaku dan terus ke bawah, dan Aku basah! Oh ... Mas ...... jangan mulai! Aku bisa tak tahan ..... Aku memang sedang kehausan ..... tapi bukan begini, Aku bukan isterimu .... Entah bagaimana tadi, kenyataannya Aku sekarang telah rebah di sofa dengan dada telanjang. Mas Narto menindih tubuhku sambil terus menghisap-hisap puting dadaku. Kurasakan Mas Narto sekarang berbeda. Dulu cumbuannya begitu romantis, halus, kini nafsunya yang lebih kentara. Bahkan rokku telah tersingkap..... Pinggulnya telah menindih selangkanganku..... Tubuhnya telah bergoyang-goyang .....
Selangkanganku merasakan kerasnya gesekan batang penisnya, walaupun masih ada beberapa lembar kain di antara kelamin-kelamin kami...... Aku makin basah .... Tubuhku mulai terangkat, rasanya ....
Sekonyong-konyong Mas Narto bangkit gugup. Aku ikut bangkit, kulihat dari kaca jendela dua orang kawannya sedang menuju ke arah kami. Celaka! Mas Narto bisa dengan cepat berberes, karena pakaiannya memang belum terbuka. Tapi Aku? membereskan bra, menutup kancing blouse, mana sempat?
"Masuk aja ..." bisik Mas Narto.
Setengah berlari sambil tangan menutupi buah dada, Aku masuk ke ruang tengah, lalu langsung ke kamar. Aku menenangkan diri. Nafasku masih tersengal, gemetaran menahan sesuatu. Kurang ajar. Dibikinnya Aku tinggi, lalu dilepaskan. Hhhhh .... rasa menggantung memang tak nyaman. Aku ingin "diselesaikan" ...... Aku butuh waktu beberapa saat lagi untuk menurunkan nafsuku yang terlanjur naik.
Ketika Bang Mamat pulang, entah kenapa Aku jadi salah tingkah. Aku tak berani menatap matanya. Aku merasa bersalah. Kenapa Aku tadi membiarkan Mas Narto meremasi dadaku dan lalu menghisap-hisap putingnya? Bukankah semua yang ada dalam diriku --termasuk kedua buah kembar ini-- sudah menjadi milik Bang Mamat? Tapi Mas Narto lebih dulu memacariku dan Aku dulu mencintaiku. Ah itu hanya alasan pembenaranmu saja Pah! Tapi toh tak terjadi apa-apa antara Aku dengan Mas Narto, tak lebih dari hisap-hisapan. Itu juga tak seharusnya kamu lakukan. Pokoknya tak boleh ada pria selain Bang Mamat yang boleh menyentuh tubuhmu. Tapi Bang Mamat jarang menyentuhku. Itu juga bukan alasan! Baiklah, Aku janji tak akan mengulanginya lagi. Oh, semoga Bang mamat tak tahu perubahan perilakuku ini.
"Mas jahat begitu sih," omelku begitu esoknya Mas Narto menelepon lagi.
"Sorry Yang .... habis kangen banget sih."
"Mas memang suka ganggu isteri orang ya?"
"Ampuun .... engga lah. Sama sekali engga pernah. Mas engga ada maksud mengganggu isteri orang. Kemarin itu Mas hanya melepaskan rindu sama kekasih."
"Huh ... dasar ..."
"Mas kesitu sekarang ya, Yang."
"Jangan!"
"Pokoknya Mas mau ke situ. Tunggu ya, daag." Telepon ditutup. Nekat bener.
Giliran Aku yang cemas. Konflik antara menolak kehadiran Mas Narto karena ingin setia, dengan keinginan mengisi kesepian sambil mengulang kenangan manis. Antara menolak dan menginginkan. Mungkin terlambat untuk menolak. Mas Narto sekarang sudah duduk di sofa sebelahku. Kali ini dia datang sendirian, dan pandai memilih waktu. Saatnya anak-anak kost sedang kuliah, Ayah dan Ibu pergi dan Si Randi dibawa baby sitter main ke tetangga.
Dia juga pandai memanfaatkan waktu dengan efisien. Menolak kubuatkan minum tapi langsung mencumbuiku di sofa. Entah setan mana yang membujukku untuk menyambut lumatan bibirnya dengan lumatan pula. Mas Narto makin "ganas". Tubuhku ditindih dengan ketat, seluruh mukaku diciuminya, lalu leherku. Dengan agak kasar dibukanya dasterku, lalu direnggutnya bra-ku. Mulutnya dengan rakusnya melumati kedua buah dadaku bergantian kanan kiri. Lalu turun ke perutku, pusarku dijilatinya. Terburu-buru dia membuka celana dalamku. Eh! Aku membantunya dengan mengangkat pantatku. Dan ...........oh!
Mengapa Aku memberikannya? Bagaimana dengan janjiku kemarin? Mengapa Aku mengizinkan lidahnya menari-nari di sekitar clit-ku? Karena membuatku terbang melayang di angkasa?
Kalau kemudian Aku mendesah, melenguh, dan merintih-rintih, itu biasa. Tapi, di tengah rintihanku Aku minta Mas Narto untuk segera masuk, adalah luar biasa bagiku. Kenyataannya memang begitu.
Hanya dalam beberapa detik Mas Narto telah bugil. Pemandangan yang telah biasa Aku lihat. Waktu pacaran dulu Aku sering mengelus-elus penisnya yang kini sedang menuju ke selangkanganku. Saat-saat awal masuk inilah nikmatnya. Dari kondisi basah, "hampa", dan melayang tak tentu, menuju pada kondisi "terpenuhi" dan pinggul mendarat kembali ke bumi, dengan "masa transisi" berupa simulasi-simulasi nikmat pada dinding-dinding vagina. Masa pendaratan tak lama. Ketika pinggul Mas Narto naik-turun, Aku kembali melayang-layang. Mas Narto memang keterlaluan. Kedua tangannya menyusup di bawah punggungku lalu mengunci tubuhku, dan dengan demikian dia bebas menyodokku dengan hentakan tanpa Aku bisa "mundur" apalagi menghindar. Tapi untuk apa mundur dan menghindar kalau hentakan tadi malah menambah sensasi kenikmatan?
Untunglah, walaupun dalam keadaan melayang-layang begitu Aku sempat ingat satu hal. Sehabis suatu sodokan, kedua tangan dan kakiku mengunci tubuh Mas Narto sebelum dia menarik pinggulnya kembali. Aku peluk. Kubisikkan dekat kupingnya.
"Jangan keluarin di dalam."
Mas Narto mengangguk-angguk, lalu memompa lagi begitu Aku mengendurkan kakiku. Omonganku masih didengar, Mas Narto menepati janji. Ditumpahkannya seluruh maninya ke atas perutku. Banyak. Semoga dia tak telat mencabutnya. Aku memang sedang "polosan", tak memakai proteksi apapun........
***
Aku mengurung di kamar sendirian, menangis terus. Aku benar-benar berdosa, merasa diriku ini kotor. Aku telah membiarkan Mas Narto, bekas pacarku, menyetubuhiku. Bodohnya, Aku menikmatinya. Isteri macam apa Aku ini? Cinta Bang Mamat yang tulus telah kukhianati, hanya karena dia akhir-akhir ini jarang menyentuhku. Bukankah sibuknya Bang Mamat untuk keluarganya, Aku dan Randy? Oh ... Aku hanya bisa menyesali dengan menangis terus-terusan.
Mengulangi suatu pengalaman yang memberikan rasa nikmat memang sifat manusia dan setan ada di mana-mana.. Beberapa kali Mas Narto nelepon mau datang, telah berhasil Aku tolak. Untung Aku punya alasan kuat, Ayah atau Ibu sedang ada di rumah. Tapi pembicaraan teleponnya pagi ini membuatku tak kuasa untuk menolak.
"Aku kangen Pah, pengin ke situ."
"Ada Ibu Mas, lagian baby siter ngasuh di rumah."
"Kita jalan-jalan ke luar aja yuk."
"Kemana Mas?"
"Ya .... kemana ajalah. Aku jemput ya."
"Engga enak Mas, ada Ibu."
"Ketemu di X aja," katanya menyebut nama restoran beberapa meter dari rumah.
"Males ah," sahutku. Masa Aku perempuan muda nunggu cowo di restoran, nanti apa kata pengunjung restoran? Belum lagi banyak yang kenal.
"Pah, Aku mohon kita bisa ketemu. Mungkin ini pertemuan untuk perpisahan."
"Kenapa gitu?"
"Minggu depan Aku pindah tugas ke X," jelasnya. Ke Kaltim? Oh, jauh amat. Tiba-tiba Aku merasa kehilangan. Baiklah Aku mengalah.
"Oke Mas, kita ketemu di X aja," kataku menyebut nama shopping center, beberapa menit dari rumah dengan kendaraan umum.
"Makasih, sayangku."
Satu jam kemudian Aku sudah di dalam mobil Mas Narto yang dipacu ke arah Jakarta.
"Aku ingin pertemuan kita ini punya kesan yang mendalam," katanya.
"Ke mana kita Mas."
"Ke tempat yang berkesan."
"Apa itu."
"Nanti kamu tahu." Kulirik jam tangan, jam sembilan lewat sepuluh.
"Jangan jauh-jauh Mas, waktuku terbatas." Saat makan siang Aku harus sudah ada di rumah. Bang Mamat terkadang pulang untuk makan siang.
"Engga kok, bentar lagi sampai." Mobil masuk ke pintu gerbang yang dijaga Satpam, lalu berjalan pelan menyusuri bangunan-bangunan semacam bungalow. Seorang lelaki setengah berlari memandu mobil sampai ke pintu garasi. Mas Narto membawaku ke suatu motel tempat pasangan selingkuh berkencan. Ada rasa tak enak sebenarnya. Tapi karena menyadari bahwa hari ini adalah pertemuan terakhir dengan mantan kekasihku ini, Aku bisa menerima perlakuannya ini. Di ujung garasi ada tangga ke atas dan berujung pada pintu. Melewati pintu ini kita masuk pada ruang dengan sofa set, ada TV besar, mini bar, dan kulkas. Lelaki tadi yang rupanya room-boy menyodorkan kuitansi dan langsung berlalu setelah menerima uang dari Mas Narto. Aku duduk di sofa.
"Udah sering ya bawa cewe ke sini."
"Eemm ... sering sih engga, sesekali. Maklumlah ...."
"Jadi saya ini Mas anggap seperti mereka itu?"
"Eit, jangan begitu dong, Yang. Ini cuma masalah tempat."
"Ya, justru itu kenapa engga di rumah Mas aja?"
"Adik Mas yang dari Jawa sekarang tinggal di rumah. Engga enak." Meskipun masih ada rasa tak enak, kenyataannya Aku tak menolak ketika Mas Narto mulai menciumiku di sofa. Lalu menelanjangiku sebelum dia juga berbugil. Lalu step berikutnya seperti yang sudah-sudah. Mas Narto merebahkanku di sofa, membuka kakiku lebar-lebar untuk menempatkan tubuhnya diantaranya, mengarahkan kepala penisnya ke selangkanganku, menekan, dan masuk. Lalu mulai bergoyang kiri-kanan dan memompa naik-turun. Tubuhnya kadang bertumpu di badanku sambil kedua lengannya mencengkeram, kadang bertumpu pada kedua telapak tangannya. Suatu proses tahap-tahap persetubuhan yang sama (dan biasa) yang dia lakukan beberapa hari lalu di rumahku.
Yang tidak biasa adalah ketika stimulasi yang dia lakukan mulai membuatku "naik", Mas Narto telah "selesai". Ketika Aku mulai merasa melayang-layang, tiba-tiba dihempaskan kembali ke bumi tanpa penyelesaian yang nikmat. Ketika Aku sedang merambat naik menuju puncak kenikmatan, Mas Narto telah orgasme. Beberapa hari lalu Mas Narto mampu membawaku melayang tuntas, kali ini berbeda. Dia membuatku "tanggung", rasa menggantung.
Dia rupanya merasakan apa yang kurasakan. Pada second round di kamar yang keempat dindingnya dipenuhi cermin, benar-benar berusaha membuatku "tinggi". Seluruh tubuhku di eksplore dengan sabarnya, tak buru-buru masuk. Aktivitas Mas Narto di cermin yang sedang memompa tubuhku terlihat jelas dan mampu menambah rangsanganku. Bahkan ketika Aku mengganjal kepalaku dengan bantal, Aku bisa melihat keluarmasuknya penis Mas Narto pada pintu vaginaku melalui cermin dinding di depanku. Aku memang sempat melayang tinggi, tapi apa boleh buat. Mas Narto lagi-lagi keburu selesai. Ah! Pertemuan perpisahan ini tak membuat kesan yang mendalam sebagaimana yang kami harapkan. Dua ronde persetubuhan hanya membuatku makin "geli-geli" saja. Dan tentu saja Aku lalu jadi gelisah sepanjang siang, sore sampai malam.
Malam harinya Aku coba melampiaskan hasratku yang menggantung ini kepada Bang Mamat. Tapi lagi-lagi dia tak memberikan response positif atas "sinyal" yang kuberikan. Reaksi yang ditunjukkan Bang Mamat cukup membuatku maklum, dia sedang tak berminat malam ini. Oh iya, ini memang bukan malam libur, masih 4 malam lagi, di mana Bang Mamat akan melaksanakan kewajibannya memberiku nafkah batin, yang terjadwal dan jarang berubah! Ketika malam semakin larut, Aku masih juga belum bisa tidur. Kupandangi wajah Bang Mamat yang terlelap nyenyak di sebelahku. Betapa damai wajahnya dan begitu bersih. Tiba-tiba Aku merasa sedih dan lalu menangis. Teganya Aku mengkhianati pria baik hati ini.....
Aku bangkit dan duduk di depan cermin. Aku buka kancing baju tidurku. Sepasang buah bulat kembar ini masih indah. Bang Mamat dan Mas Narto sering mengatakannya. Apakah Bang Mamat sudah tak tertarik akan keindahan ini? Dan Mas Narto, oh ... tadi siang dia begitu rakusnya menciumi dan mengulumi putingnya. Bahkan dia berniat menggigiti dan dengan tegas Aku larang. Aku berdiri. Kupandangi tubuh bagian bawahku lewat cermin. Lengkungan-lengkungan itu masih menggiurkan. Begitu pula yang dikatakan dua pria terdekatku. Perutku masih bisa dikatakan rata, setelah punya anak. Bawahnya lagi? Oh, lagi-lagi Aku menangis. Menyesali mengapa Aku mengizinkan penis lain selain milik Bang Mamat memasukinya? Lama Aku terisak pelan sendirian. Untung Bang Mamat begitu pulas. Seandainya dia tahu Aku menangis terus bertanya kenapa, bagaimana Aku menjawabnya? Untunglah kini Mas Narto telah pergi jauh, ke Kalimantan. Seandainya suatu saat dia datang lagi dan mengajak berhubungan seks, Aku akan mampu menolak tegas. Selain karena rasa bersalah pada Bang Mamat, juga karena Mas Narto "sama saja" dalam hal kualitas persetubuhan. Padahal Aku sudah berkorban dengan mengkhianati Bang Mamat.
***
Tadi malam susah tidur membuatkan pagi ini tidak fresh. Hari ini babysitter minta cuti, mau pulang kampung, tugasnya diambil alih oleh pembantu. Aku beranjak hendak mandi ketika Aku lihat Si Iyem (nama samaran) kerepotan menjemur pakaian sambil momong anakku.
"Yem, kamu urus Randy aja ya, biar Ibu yang jemur pakaian."
"Baik, Nyah." Letak jemuran ada di samping rumah, persis di belakang bangunan kamar-kamar kost.
"Pagi, Mbak." Dari sejak menerima kost dulu Aku biasa dipanggil "Mbak" oleh anak-anak kost. Sampai sekarangpun begitu walau Aku sudah menikah dan punya anak satu.
"Pagi, baru berangkat?"
"Iya Mbak, ada kuliah jam 10, mari mbak."
"Yuk."
Hubunganku dengan anak-anak kost memang sekedar bertegur sapa dan berbasa-basi saja. Aku meneruskan kerjaanku. Kurasakan anak tadi tak langsung beranjak, tetap ditempatnya dan menatapiku. Aku pikir mungkin dia terheran, tak biasanya Aku menjemur pakaian, pekerjaan yang biasa dilakukan Iyem. Merasa ditatap begitu dengan sendirinya Akupun melihat ke arahnya. Mendadak anak itu mengalihkan pandangan, agak kaget, dan langsung berlalu. Apa yang aneh pada diriku? Anak tadi seperti mencuri-curi pandang. Oh! Kancing depan dasterku ada yang terlepas, belahan dadaku jadi lebih terbuka. Cepat-cepat Aku betulkan. Sialan anak itu. Bukan cuma belahan dadaku saja yang sempat dilihatnya. Beberapa kali tadi Aku sempat membungkuk mengambil pakaian basah dari ember. Celaka duabelas!, Aku tak memakai bra! Aku baru sadar, tadi memang berniat mau mandi. Bahkan ternyata hanya daster ini saja satu-satunya pakaian yang kukenakan sekarang. Begitulah kalau Aku mau mandi.
Aku berniat mau masuk untuk berganti baju, tapi ah, tanggung, tinggal beberapa potong yang harus dijemur, sudah itu baru mandi, pikirku. Aku jadi merasa seksi, dadaku berguncang-guncang ketika bergerak membungkuk atau mengangkat ke atas. Di beberapa bagian dasterku basah kena cipratan air cucian makin mempertegas bentuk tubuhku. Apalagi di bagian dada. Ups! Dari sudut mataku Aku melihat di salah satu jendela kamar kost suatu sosok bayangan di balik viltrage. Sosok bayangan kepala sedang mengintipku. Lelaki muda memang suka iseng tapi masih takut-takut. Aku pura-pura tak tahu dengan meneruskan pekerjaanku, toh tak lama lagi. Kubiarkan Si Pengintip ini menikmati guncangan-guncangan tubuhku, pusing tanggung sendiri .....
Dan rupanya Aku 'menemukan' cara untuk mengisi kesepian yang makin memuncak ini dengan 'acara jemur pakaian' tiap pagi. Mungkin Aku sudah gila. Entahlah. Aku menjemur pakaian yang sebelumnya merupakan tugas Iyem, dan dengan pakaian seadanya. Kadang hanya berdaster seperti tempo hari, atau pakai celana pendek dan t-shirt longgar panjang sampai menutupi celana pendek, sehingga seolah hanya kaus itu saja yang kukenakan. Tapi kalau sedang berkaus aku tak berani melepas bra, bulatan kembarku terlalu kentara. Herannya, Aku menikmati sensasi baru saat sosok bayangan di jendela mulai muncul mengintipku. Berdasarkan letak jendela Aku memperkirakan Si Pengintip ini adalah Tono (sebut saja begitu) atau Andi (samaran juga). Tono adalah yang biasa mewakili teman-temannya bicara dengan induk semang (Ayah, Ibu, atau kadang-kadang Aku) untuk urusan per-kost-an. Rupanya ia dianggap pemimpin oleh rekannya, mungkin karena dia penghuni paling lama. Andi adalah mahasiswa paling senior.
Suatu pagi Tono masuk ke rumah utama ingin bicara dengan induk semang. Karena Ayah dan Ibu sedang tak ada di rumah, maka dia bicara kepadaku.
"Gini Mbak, akhir-akhir ini ruang tamu jarang dibersihkan," katanya. Matanya menatapku, hanya sebentar, lalu pandangannya turun ke dadaku.
"Oh iya". Aku mengenakan celana jeans dan t-shirt ketat. Tak heran kalau matanya tertuju ke dadaku. Walaupun Aku mengenakan bra, tapi ketatnya kausku menyebabkan kedua bukitku makin menonjol.
"Gini Dik, kebetulan saat ini Si Nah lagi pulang kampung. Tugas-tugasnya dikerjakan oleh Si Iyem. Bahkan saya sendiri membantu tugas Iyem. Nanti kalo Nah udah balik pasti dibersihkan. Atau nantilah saya nyuruh Si Iyem kalau kerjaannya udah beres."
"Oh maaf Mbak, saya engga tahu kalo Si Inah pulang kampung, kirain dia mulai males ...." Lagi-lagi Aku menangkap basah bola matanya sedang menatapi dadaku.
"Oo engga, tolong Dik Tono bisa ngerti ya .."
"Iya Mbak, saya hanya menyampaikan keluhan teman-teman. Nanti saya sampaikan sama mereka. Ngomong-ngomong, Babe kemana Mbak?" Jelas sekali, jakun Tono turun-naik. 'Babe' memang cara anak kost memanggil Ayahku.
"Lagi pacaran ama Nyak tuh .." Lalu diam. Aku rasa Si Tono ini salah tingkah. Biasanya dia tak begitu. Apa karena dia tertangkap sedang menatapi dadaku?
"Mari Mbak, terima kasih."
"Yuk."
Dari gelagatnya Aku jadi yakin, yang setiap pagi mengintipku menjemur pakaian adalah Tono. Apalagi dia jadi sering datang sewaktu Aku sedang sendiri di rumah. Alasannya macam-macam, mengisi air minum, pinjam majalah, ngajak main Randy dan lain-lain. Setiap kedatangannya selalu saja dia mencuri-curi pandang menatapi dadaku sambil menelan ludah. Pandangan matanya menyiratkan dia menginginkanku, seolah dia ingin menelanku bulat-bulat, tapi Aku tahu dia ragu-ragu, takut, atau tak tahu cara memulainya. Anak ini memang menarik. Suka menolong dan sifat kepemimpinannya menonjol. Tapi salah dia kalau berharap mendapatkanku. Aku tak berminat lagi untuk bermain api. Affairku dengan Mas Narto yang mantan kekasih saja membuatku merasa bersalah. Tiba-tiba Aku punya ide nakal untuk mengganggu Tono. Aku punya rencana tampil lebih 'menggiurkan' ketika Tono datang dan ketika Aku menjemur pakaian. Biarlah dia semakin tersiksa .... Buat fun saja mengisi kesepian. Asal tak sampai jatuh ke pelukan Tono, kenapa tidak? Dasar perempuan kurang kerjaan ...!
Pagi ini Aku sibuk memilih pakaian yang seksi untuk diintip Tono. Celana pendek plus kaus longgar, ah ini sudah pernah. Bagaimana kalau kali ini no-bra? Perubahan yang terlalu drastis. Atau baju tidur tipis yang biasa Aku pakai tanpa pakaian dalam untuk 'membangunkan' Bang Mamat, tapi dengan pakaian dalam. Aku ngaca. Ah, tubuhku nampak, pakaian dalamku terlihat jelas. Tak pantas. Akhirnya Aku pilih daster pendek model tank-top yang bahannya tak terlalu tipis. Bahu dan bagian atas dadaku terbuka, belahannya nampak jelas, juga separoh pahaku terbuka. Membungkuk sedikit saja kedua bulatannya tampak. Begitu Aku keluar sosok di jendela itu sudah nampak. Kadang Aku sengaja berlama-lama membungkuk dan menghadap ke arah jendela. Aku tak tahu apa reaksi Tono melihat penampilanku dan tingkahku pagi ini. Aku senyum-senyum sendiri. Selesai menjemur kusuruh Iyem membersihkan ruang tamu kamar kost, Aku momong Randy. Tepat seperti yang kuduga, Tono masuk, berbasa-basi sebentar lalu ambil koran dan duduk. Masih mengenakan pakaian yang tadi tentu saja pahaku makin terbuka karena duduk. Aku tak peduli beberapa kali mata Tono menatapi dadaku bergantian pahaku. Tak hanya menelan ludah, beberapa kali kulihat Tono menghela nafas. Wajahnya yang mulai merah dan nafas yang agak tersengal menandakan "aroma" nafsunya. "Rasain lu" kataku dalam hati. Ah ... seandainya Bang Mamat bernafsu melihatku seperti Tono sekarang.
Sepi demi sepi yang berhasil Aku lalui ini tampaknya akan semakin meningkat. Sabtu malam sehabis kami bertiga Aku, Bang Mamat, dan Randy jalan-jalan sekalian belanja ke Mall "X", Aku telah siap tergolek di ranjang dengan pakaian tidur seksi kesukaan Bang Mamat dan tanpa pakaian dalam. Aku berharap malam ini, seperti setiap malam libur, kami dapat menikmati hubungan suami-isteri sehingga dahagaku yang telah sepekan kurasakan dapat terpenuhi. Beberapa saat setelah Bang Mamat merebahkan diri disampingku, Aku seperti biasa mulai "mengganggunya" dengan menyilangkan sebelah kakiku ke tubuhnya dan menggesek-gesek. Belum ada reaksi. Kugosokkan paha telanjangku ke selangkangannya. Bang Mamat memelukku. Kukeluarkan buah dadaku dari baju tidur dan menyodorkan ke mulutnya dan dia mulai menciuminya. Bang Mamat memang suka 'netek', tak kalah sama anaknya. Putingku disedot-sedotnya, nafsuku mulai merambat naik, di bawah sana mulai terasa lembab.
Tanganku mulai menyusup di balik sarung Bang Mamat dan terus merambat naik. Biasanya telapak tanganku akan langsung 'berjumpa' dengan ketegangan di dalam sana, tapi kali ini Aku harus menarik dulu tali elastis CDnya (tumben, Bang Mamat masih mengenakan CDnya) sebelum mengelusi batang zakar kesayanganku. Batang yang belum keras benar, telapak tanganku harus bekerja keras untuk mengeraskannya, sementara kelembaban di selangkanganku telah berdenyut-denyut minta 'dipenuhi'. Hanya dengan melepas baju tidurku Aku sudah bugil, lalu kutelanjangi Bang Mamat dan tubuhnya Aku raih jadi menindih tubuhku. Kubuka kakiku lebar-lebar menunggu dengan memejamkan mata. Menunggu saat-saat nikmat ketika milik Bang Mamat memenuhi selangkanganku yang telah lembab 'matang' dan berdenyut.
Bang Mamat dengan gagahnya memposisikan kedua lututnya di antara bentangan kakiku, lalu tubuhnya merendah. Saat nikmatpun dimulai, kurasakan benda itu menempel di mulut vaginaku, lalu menekan, kemudian melesak, dan .....aaahh ... Aku menikmati gesekan di dinding-dinding vaginaku sebelum akhirnya seluruh batang penis Bang Mamat tenggelam. Nikmatnya saat 'pemenuhan' ini susah diceritakan, pokoknya nikmat. Aku mulai menggoyang pantatku dan tubuh Bang Mamat mulai mundur maju. Tak hanya pinggulku yang beraksi, tangan, dada, kepalaku bergoyang. Tentu saja termasuk mulutku.
Akupun mulai mendaki lereng bukit terjal kenikmatan hubungan seks. Tapi apa yang terjadi tak seperti biasanya. Puncak itu terasa masih jauh ketika tubuh Bang Mamat mengejang. Kejangan tubuh yang khas menandakan pemiliknya telah sampai di puncak mendahuluiku. Aku merasa 'ditinggal' di lereng bukit dan 'digantung'...... Tanda-tandanya sudah kurasakan waktu Bang Mamat memasuki tubuhku tadi. ereksinya tak begitu keras. Apa boleh buat, Aku harus menerima. Tahun-tahun pertama bersama kami masih bisa mulai pendakian lagi, tapi beberapa tahun terakhir ini Bang Mamat tak pernah 'nambah'. Sebenarnya tak masalah benar kalau tadi Aku juga bisa menyelesaikan pendakianku. Tapi kini ... kuhabiskan sisa malam dengan terisak di tengah dengkuran Bang Mamat. Aku harus menunggu minggu depan. Betapa lamanya menunggu minggu depan itu dengan selangkangan yang selalu membara.....
***
Malam-malam berikutnya kuisi dengan pergulatan bathin yang hebat. Pergulatan antara tetap setia kepada Bang Mamat dan mengundang masuk Tono, si anak kost. Ah, seandainya Mas Narto tidak di Kaltim. Mas Narto? Sama saja! Toh dia juga 'menggantungku' di lereng bukit! Yang sedang kupikirkan memang Si Tono. Mengajak Tono bersetubuh adalah mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Perilakunya akhir-akhir ini mengisyaratkan dia sudah begitu 'siap' menerkamku. Tapi janjiku pada diriku sendiri untuk setia kepada Bang Mamat setelah Mas Narto pergi, menghalangi niatku. Pada malam keempat akhirnya keputusanku sudah bulat: mengundang Tono! Resiko apapun yang akan terjadi, Aku siap menanggungnya.
Begitulah, didorong oleh keputusanku yang bulat Kamis pagi ini kembali Aku menggelar "aksi menjemur pakaian" yang setengah gila, hanya dengan T-shirt panjang sebagai penutup tubuhku! Tak heran kalau ketika selesai menjemur pakaian Aku duduk di sofa, Tono mendatangiku. eh, ternyata Aku jadi amat gugup di hadapan Tono dengan pakaian gila ini. Apalagi Tono terus menatapi dadaku --yang tercetak bulat oleh T-shirt, Aku makin salah tingkah. Yang jelas Aku tak akan memulai. Menunggu apa yang akan dilakukan anak muda ini. Pengin tahu bagaimana dia memulainya.
"mBak, boleh saya minta tolong?" katanya. Suaranya agak serak.
"Tolongin apa?"
"Saya tahu mBak pandai menulis."
"Tahu dari mana?"
"Saya sering baca tulisan mBak di tabloid Anu." Aku memang sering mengirimkan tulisan ke tabloid wanita itu.
"Ah, itu hanya iseng aja," kataku.
"Ya, tapi bahasa mBak bagus dan enak." Aha, dia mulai merayu.
"Trus, saya bisa nolong apa?"
"Gini, tolong periksa makalah saya ini, terutama dari bahasanya". Taktis juga dia.
"Bahasa makalah kan beda sama bahasa tulisan populer."
"Ayolah mBak ..." Tono beranjak sambil membawa lembaran-lembaran kertas dan duduk di sebelahku, meletakkan kertas-kertas itu di pangkuanku. Aku berdebar. Duduknya begitu dekat. Lalu dia menunjukkan bagian-bagian tulisannya untuk kukoreksi. Kesempatan dia untuk menekan-nekan pahaku. Aku merinding dibuatnya. Puting dadaku mengeras. Nafasnya kudengar memburu, dan eh, ternyata Aku juga begitu, tiba-tiba Aku jadi sesak nafas. Aku memang membaca tulisan itu tapi tak satupun nyantol di otakku. Dari sudut mataku Aku melihat, Tono tak memandangi tulisannya lagi, tapi matanya bergantian menatapku dan dadaku. Oh, puting dadaku begitu jelas menonjol, Aku yakin Tono bisa jelas melihatnya. Aku jadi malu. Risih ditatap begitu, Aku menoleh. Wajah kami begitu berdekatan.
"Kenapa?" Ah, suaraku juga serak!
"Mbak ....."
"Hmm?"
"MBak cantik." Aku tak komentar.
"Dan seksi." Lagi-lagi rayuan. Setelah itu apa? Tak kusangka Tono begitu nekat. Diciumnya bibirku. Aku berontak. Kertas di pangkuanku bertebaran ke lantai. "Ton!" teriakku begitu bibirku terbebas. Tono bukannya mundur, malah tangannya merangkul bahuku dan memeluknya erat-erat, sementara kembali bibirnya mencari-cari bibirku. Dia melumatku lagi. Berontakku berikutnya hanya pura-pura saja. Aku menyerah, apalagi lumatan bibirnya mulai membuatku melayang. Tangannya melepaskan pelukan dan pindah ke dadaku, meremas. Remasan kasar sebetulnya, tapi Aku mulai menikmatinya. Remasan yang masih terhalang kain kaos. Kain bukan halangan bagi Tono, dia bahkan bisa 'menemukan' putingku dan memelintirnya. Pelintiran kasar juga, yang tak nyaman bagiku, bahkan cenderung sakit. Oleh karenanya Aku jadi tersadar dan melepaskan ciumannya. Dengan refleks Aku menoleh ke belakang.
"Engga ada orang Mbak, Tono sendirian .." Tono menangkap maksudku. Aku bangkit.
"MBak......" Tono juga bangkit mengikutiku. Kubiarkan. Aku hendak mengunci pintu, siapa tahu Randi dan pengasuhnya masuk.
Aku kembali ke sofa dan Tono langsung menubrukku. Eh, dadanya sudah telanjang, entah kapan dia melepas bajunya. Aku rebah, Tono menindihku. Sesuatu yang keras menekan pahaku. Leher T-shirtku ditariknya ke bawah lalu diciuminya dadaku. Ditariknya lagi kausku sampai bibirnya bisa mencapai puting dadaku, dan dikemotnya. Tangannya menelusuri pahaku dan terus menyusup ke atas. Aku cegah tangannya. Aku malu kalau dia tahu Aku tak pakai CD. Aku juga mencegah tangannya yang berusaha menarik ujung bawah kausku. Aku tak mau dia melihat milikku lebih dulu sebelum dia telanjang bulat. Beberapa kali usahanya melucutiku kutolak, Tono seolah mengerti maksudku. Dia bangkit dan turun dari sofa, lalu mencopot celana jeans-nya. Kurang ajar, Tono tak pakai CD! Kurang ajar lagi, penisnya itu beda. Maksudku dibanding milik Bang Mamat dan Mas Narto (memang hanya dua orang itu yang pernah Aku lihat miliknya). Besarnya sih tak berbeda dengan milik suami dan mantan kekasihku tadi, hanya panjangnya lebih dan bagian ujungnya --mulai dari sebelum leher-- sedikit melengkung ke atas. Lengkungan kecil yang justru menambah 'indah'nya barang itu. Satu hal lagi yang menambah nilai, warnanya muda dan mulus. Kesan keseluruhan (dalam keadaan tegang) panjang mengacung dan 'bersih'.
"Kenapa mBak .." rupanya Tono melihatku lama menatap miliknya. Aku tak komentar.
"Kecil ya mBak ...". Lelaki cenderung menganggap miliknya 'tak sesuai ukuran ideal', tapi kalau ditanya berapa ukurannya cenderung melebihkan, kata literatur.
"Panjang ..." komentarku jujur.
"Ah masa ..." katanya dengan roman muka senang. Kedua belah tangannya lalu menelusuri pahaku sambil menyingkap ujung kausku, Aku membiarkannya.
"Hah ...." serunya kaget, matanya berbinar menatapi selangkanganku yang bugil.
"Dari tadi mBak engga pakai CD ya ... ah.." tubuhnya membungkuk dan sejurus kemudian kurasakan kelembutan lidah Tono bermain di bawah sana. Kilikannya menunjukkan bahwa Tono berpengalaman dalam hal ini. Aku memejamkan mata dan menggigit bibir menahan sesuatu, hanya sebentar, keluar juga eranganku. Geli-geli enak. Hanya sebentar juga, Tono bangkit dan mengarahkan senjatanya siap masuk, lagi-lagi Aku merem menunggu. Uh! sialan nih anak, kasar benar.
"Aduh .... pelan-pelan dong Ton."
"Oh ...maaf mBak ... habis engga sabaran."
Tono jadi lebih berhati-hati, pompaannya yang lebih perlahan justru memberikan sensasi lain. Sensasi yang ditimbulkan dari gesekan pada relung-relung vaginaku oleh panjangnya penis.
'Merasakan' Tono memang agak berbeda. Ada sentuhan 'baru' di dalam sana yang selama ini tak terjamah oleh suamiku dan Mas Narto. Pendakian serasa lebih mudah oleh sensasi-sensasi baru ini. Begitu tampaknya. Tapi kenyataannya tidak. Tak berbeda dengan Bang Mamat Sabtu lalu. Aku ditinggal di lereng, sementara Tono berlarian ngos-ngosan menuju puncak. Untung Tono masih sempat mencabut dan menumpahkan cairannya ke perutku.
"Maafkan saya mBak," Tono membaca kekecewaanku.
"Mbak begitu seksi membuat saya jadi bernafsu banget," tambahnya lagi. Aku diam saja, musti komentar apa? Dalam foreplay tadi kelihatan sekali dia telah pengalaman, tapi kenapa dia cepat selesai?Setelah beberapa malam berperang batin hingga sampai pada keputusan berat untuk mengkhianati Bang Mamat, hasilnya ternyata hampir sama, tak memuaskan. Merindukan pungguk di bulan burung dara di tangan dilepaskan. Aku memang perempuan konyol, isteri yang konyol, tepatnya. Nasib .....
***
Aku masih tergolek di sofa dengan t-shirt tersingkap sampai di bawah dada. Tono mengelap ceceran maninya di perutku dengan tissu. Aku mengamati kerjanya. Penisnya yang masih mengacung berkilat ikut berguncang seirama gerakan tubuhnya. Selesai mengelap dia minta izin menggunakan kamar mandi di dalam, Aku izinkan, toh tak ada siapa-siapa. Keluar dari kamar mandi anak ini masih telanjang bulat melangkah mendekatiku lalu menggeser pahaku dan duduk. Penisnya tak lagi mengacung. Aku masih tergeletak di posisi semula.
"Jangan gitu dong mBak .... saya jadi engga enak..." katanya melihat Aku mematung. Aku senyum. Nafsuku sedikit mereda.
"Nah ... gitu dong."
"Trus mBak harus gimana."
"Senyum gitu aja cukup," lalu matanya turun menatapi kewanitaanku. Refleks Aku menurunkan kaus menutupinya. Tono mencegah tanganku.
"Bentar mBak ..... emm ...lebat," dielus-elusnya bulu-bulu kelaminku. Lalu mulai menyentuh clit-ku. Anak ini mau mulai lagi? Sanggupkah 'menuntaskan'ku? Tiba-tiba Aku punya ide.
"Ciumin Ton," perintahku. Tono nurut padahal Aku belum membasuhnya. Bulu-bulu itu diciuminya, bahkan sesekali menggigiti 'daging'nya. Tanpa Aku minta Tono telah mengerti kelanjutannya. Lidahnya mengulik clit-ku. Nafsuku mulai naik. Lalu pindah ke labia-ku. Aku makin gerah, bangkit duduk dan melepas t-shirt, pakaianku satu-satunya. Aksiku ini membuat Tono melepaskan kilikannya dan mendongak.
"Oohh .... bukan main ....!" serunya menatap ketelanjangan kedua bukit kembarku. Mulutnya langsung menyerbu dadaku.
"Gila kamu Ton," kataku mendorong kepalanya. Buah dadaku digigitnya, kalau sampai ada bekas gigitan 'kan gawat.
"Sorry mBak ... habis gemes sih..."
"Teruskan yang ini dulu Ton ..." kataku menunjuk selangkanganku. Tono menurut, kembali dengan rakus mulutnya mengerjai vaginaku. Demikian intens-nya mulut Tono bekerja sampai Aku hampir sampai.
"Udah ... udah ...."kataku terengah-engah. Tono bangkit, penisnya sudah tegang mengacung, ujungnya melengkung ke atas dan berkilat menarik perhatianku. Aku mendekat dan penisnya Aku elus-elus.
Tiba-tiba tubuhnya maju, penisnya diangsurkan ke mukaku.
"Mbak ...... " katanya memandangku penuh arti.
"Kenapa?". Tono tak menjawab, hanya mendorong tubuhnya lagi makin dekat sehingga kepala penisnya beberapa senti di depan mulutku.
"Kulum ....."
"Gila .... engga mau!" tegasku. Dengan suamiku sendiri saja Aku tak pernah mengulum. Juga dengan Mas Narto. Kenapa begitu sebab mereka berdua memang tak pernah minta dikulum, entah kenapa. Seandainya Bang Mamat minta mungkin Aku akan mau. Tapi ini, bukan suami dan bukan pacar minta oral sex.
"Ayolah mbak .... sebentar aja." Aku mulai bimbang. Tak ada salahnya mencoba, bukan? Apalagi milik Tono ini kelihatan 'cute'.
"Okay, jangan sampai keluar ya ..." Benda hangat keras-keras lunak memenuhi mulutku, terasa ganjil. Aku memang sudah gila. Mustinya milik Bang Mamatlah yang kukulumi begini, bukan milik anak kost ini. Baiklah, Aku berjanji nanti akan kulakukan pada Bang Mamat, siapa tahu akan menambah gairahnya. Bokong Tono bergerak maju mundur seperti layaknya pompaan penis pada vagina, hanya mulutku yang jadi vaginanya. Makin lama tusukannya makin dalam, sampai menyentuh kerongkonganku. Sampai suatu saat Aku hampir terbatuk, penisnya kulepaskan.
"Lagi mBak ...."
"Engga!"
"Bentar lagi aja..."
"Tidak!" Kupegang penisnya dan kutuntun mendekati selangkanganku. Aku ingin Tono masuk sekarang. Di bawah sana sudah kurasakan denyutan-denyutan minta diisi.
Tono masuk.
Dan langsung membenam.
Seluruh panjang batangnya telah 'lenyap'.
Ini baru sedap.
Dan mulai mempompa.
Dan ini lebih sedap.
Gerakan tubuh kami makin liar. Aku heran, Tono sekarang berbeda dengan Tono sejam lalu. Yang tadi baru belasan gerakan tusuk-tarik dia telah sampai. Kini, entah udah berapa lama dia masih perkasa memompa. Dari gerakan tusukannya yang amat bervariasi, Aku jadi yakin Tono memang telah banyak pengalaman sex-intercourse.
Hingga Aku "berani" berharap kali ini Aku akan mampu mendapatkan orgasme.
Rasanya yang sedang menyetubuhiku sekarang ini adalah Bang Mamat. Ya, bayangan Bang Mamat muncul ketika Aku memejamkan mata menikmati tusukan Tono. Tapi bayangan Bang Mamat beberapa tahun lalu, saat bulan-bulan pertama kami menikah. Saat Randi belum ada. Saat Bang Mamat mampu menghadiahkanku multiple orgasm. Entah karena bayangan Bang Mamat, atau keperkasaan pompaan Tono sekarang, atau karena milik Tono mampu mencapai kedalamanku yang 'untouchable', tubuhku mengejang dan lalu menggelepar. Rasanya Aku sedang melayang-layang di awan kenikmatan. Ya, Aku mendapatkan beberapa detik event yang kudamba-dambakan. Aku telah orgasme. Tono menghentikan gerakannya, kelihatannya memberi kesempatan padaku untuk menikmati saat-saat puncak ini. Tapi begitu kejanganku melemah, dia mulai memompa lagi.
"Ooh......"teriakku.
Gila! Pompaannya makin cepat.
Makin cepat ...
Dan .... cepat pula dia mencabut. Air maninya berhamburan di dadaku, bahkan menciprati daguku.
***
Apa yang telah kamu lakukan, Ipah? Pelanggaran janji sendiri, pengkhianatan pada suami, dan sebuah dosa besar! Itu semua hanya demi kenikmatan orgasme yang cuma beberapa saat. Isteri macam apa Aku ini? Lihatlah apa yang kau korbankan untuk kenikmatan itu. Perang bathin berkelanjutan, kepura-puraan setiap hari, kebohongan demi kebohongan, dan tentu saja penumpukan dosa. Kini, memandang mata Bang Mamatpun kau tak berani. Sementara anak kost itu dengan amannya memuaskan nafsunya, kapanpun dia mau. Teganya kau membiarkan tubuh mulusmu menjadi alat pemuas nafsu. Ah ... toh hanya tubuhku saja yang dinikmatinya, hati dan jiwaku tetap milik Bang Mamat. Tidak bisa. Sekali kau mengikatkan diri dengan suatu pernikahan, jiwa dan ragamu telah dimiliki pasanganmu. Demikian pula sebaliknya.
Baiklah, hal ini tak boleh berlanjut. Aku telah membuat keputusan final. Aku harus menghentikan ini. Aku lelah berpura-pura terus, Aku capek mengarang kebohongan demi kebohongan, dan Aku letih merasakan perang di dalam dada.
Dua hari lalu Aku bahkan mendatangi kamar kost-nya untuk minta disetubuhi. Sungguh memalukan dan menjijikan. Biarlah itu merupakan hubungan seks-ku yang terakhir dengan Tono. Kemarin Aku sengaja minta pengasuh anakku untuk tak keluar rumah seperti biasanya dan lalu Aku mengurung di dalam kamar. Aku dengar suara Tono menanyakan Aku dan pengasuh itu melaksanakan instruksiku dengan baik
"Ibu tak boleh diganggu," katanya.
Pagi ini Aku menunggu kedatangan Tono. Bukan untuk saling mengumbar nafsu, tapi "dalam rangka penyampaian keputusan penting" (uh, kaya bahasa kantoran saja) yang akan menjadi titik balik kehidupanku.
"Met pagi mbak ..... ah makin cantik aja". Aku memang tampil beda, pakaian 'sopan', blouse rapat menutup tubuh dipadu dan celana panjang.
"Kemana aja mBak?"
"Duduk Ton, Mbak mau bicara."
"Eh, ada apa nih?"
"Kita harus menghentikan semua ini, Ton."
"Mbak ....."
"Mbak yakin kamu bisa mengerti, kita tak boleh lagi melakukannya." kupotong perkataannya, Aku tak ingin ada 'diskusi' panjang tentang hal ini.
"Ada apa mbak sebenarnya?"
"Kamu udah tahu."
"Iya mbak, tahu, tapi kenapa tiba-tiba begitu?"
"Mbak tak ingin menambah dosa lagi."
Tono mendadak diam, matanya menatapku tajam, lalu menunduk, tak bersuara. Sungguh suasana yang amat tak enak, di luar dugaanku. Kukira Tono akan protes keras. Akupun jadi diam juga.
"Ketahuilah mBak.." akhirnya dia buka suara setelah beberapa menit hening.
"Saya bukan sekedar memuaskan nafsu saya saja."
Aku tak komentar. Dia diam lagi.
"Saya ....sayang .. sama mBak."
Ah, kalimat seorang playboy yang akan kehilangan mangsa. Aku tetap diam.
"Okay mBak, kalau itu kehendak Mbak, saya nurut," dia bangkit lalu ngeloyor pergi. Aku tak bisa menduga apa yang berkecamuk di dalam hatinya. Roman mukanya aneh, susah dibaca. Tapi Aku kini lega .....!
***
Aku lebih tenang sekarang. Tak perlu berpura-pura lagi, tak perlu mengarang kebohongan. Aku berusaha menjadi isteri setia. Aku menerima saja apa yang diberikan Bang Mamat. Aku melayaninya dengan ikhlas, walaupun tak pernah mencapai puncak. Toh seks bukan satu-satunya kenikmatan dalan perkawinan. Masih banyak kenikmatan yang lain apabila kita ikhlas menjalankannya. Tampaknya kehidupan kami kembali normal lagi. Bagaimana dengan Tono? Tiga minggu setelah aku memutuskan hubungan itu, Tono pindah kost. Yang agak menggangguku adalah dia tak pamitan kepadaku. hanya menitipkan secarik surat tertutup yang isinya singkat :
"Mbak, saya pergi. Saya tetap sayang sama Mbak dan berharap suatu saat kita bisa bersama lagi -- Tono." Yah .. mungkin dia marah, tak lagi bisa mengumbar nafsu seksualnya. Tak masalah benar bagiku.
Bergegas Aku mengarahkan mobilku menuju rumah. Aku baru saja berbelanja kebutuhan sehari-hari di supermarket terdekat. Sabtu sore itu Aku seperti biasa harus mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan Bang Mamat. Minggu lalu Aku mencoba mengoral Bang Mamat dan tampaknya dia menikmatinya. Kali ini Aku akan melakukannya lagi. Aku terburu-buru pulang karena Aku masih butuh waktu lagi untuk mandi dan lain-lainnya.
Begitu masuk rumah Aku langsung ke kamar bersiap-siap mandi. Randi dan pengasuhnya tadi tak kelihatan. Mungkin masih di luar, pikirku. Sepucuk sampul yang diletakkan di meja rias menarik perhatianku. "Ipah." hanya itu yang tertulis di sampul itu. Tulisan Bang Mamat. Tiba-tiba dadaku berdebar keras. Tak biasanya Bang Mamat menulis surat seperti ini. Kalaupun ingin menyampaikan pesan biasanya dia nelepon dari kantor, atau pesan ke orang rumah bila Aku sedang keluar. Tergesa-gesa Aku membukanya :
"Ipah sayang, Singkat saja, Abang pergi dengan membawa Randi untuk waktu yang tak tertentu. Abang telah tahu semuanya. Abang begitu kaget, sedih, dan marah"
Mendadak Aku berkeringat dingin, deras mengucur. Jantung tambah berdegup kencang.
"Abang berusaha keras menahan diri, tapi akhirnya tak kuat lagi. Setelah Abang mengasingkan Narto ke Kaltim, Abang pikir Ipah menjadi sadar, tapi ternyata tidak. Kalau tak mengingat dia itu bekas kekasihmu, entah jadi apa dia.
Kamu memang keterlaluan, hampir saja Abang membunuh anak kost yang tak tahu diuntung itu. Untunglah Abang ingat Randi dan tahu benar tak enaknya hidup di penjara.
Selamat tinggal, jangan khawatir, Randi baik-baik saja -- Abang "
Pandanganku mendadak gelap, lalu Aku tak ingat apa-apa lagi .....
TAMAT
Kisah Anna dan Henny
Suatu ketika Dicky mendapat tugas dari kantornya untuk mengurus bisnis mereka ke Hongkong selama 2 minggu. Seperti biasa, Dicky memintaku menginap di rumah mereka menemani isterinya, Anna.
Dua hari menjelang kepulangan Dicky, Henny datang bersama seorang temannya, Arie, seorang perempuan berdarah Madura-Ambon. Sekilas melihat gayanya, agak kelelakian. Ia tidak cantik, tetapi kulitnya yang hitam manis dengan sebaris kumis tipis di atas bibirnya, membuat dirinya begitu seksi. Saat melihat payudaranya dari luar, kutaksir lebih kecil daripada milik Anna dan Henny.
Semula aku tidak begitu tertarik pada Arie, sebab kesannya agak kasar, tidak selembut Anna dan tidak semanja Henny. Apalagi kalau bicara, nadanya amat vulgar. Tetapi saat kami bercakap-cakap berempat, terasa semakin enak ngobrol dengannya.
Setelah makan, malam harinya kami memutar film blue berempat. Anna mencari koleksi BF mereka dan memutar film lesbian. Mula-mula dua orang lesbi saling bermesraan, halus, penuh romantisme dan berakhir dengan jeritan kenikmatan dalam permainan 69 di antara mereka. Setelah itu dua orang lesbian berciuman setelah saling menelanjangi satu sama lain dengan ganasnya, kemudian mereka menggunakan dua dildo memuaskan yang lain lalu berakhir dengan memakai satu dildo panjang yang dimasukkan ke dalam vagina mereka berdua sambil keduanya berbaring terlentang berseberangan memaju-mundurkan tubuh mereka agar dildo tersebut masuk keluar vagina masing-masing. Melihat adegan itu kulihat Anna merapatkan kedua belah pahanya sambil sesekali meleletkan lidahnya. Henny menonton sambil merabai pahanya perlahan-lahan dan sesekali menekan-nekan pangkal pahanya. Sedangkan Arie meraba-raba dadanya sendiri. Aku melihat film tersebut sambil sesekali melirik ketiga perempuan di dekatku.
Adegan berikutnya adalah permainan panas antartiga orang perempuan bule cantik. Setelah ketiganya bertelanjang dan membentuk segitiga di mana yang satu mengelus, meraba dan mencium serta menjilati vagina yang lain sambil menikmati vaginanya diperlakukan demikian, tiba-tiba mereka didatangi seorang pria bule tinggi besar. Melihat ketiga perempuan itu, ia berdecak-decak dan mendekati satu persatu mereka, merabai payudara dan menciumi bibir mereka satu persatu. Sadar akan kehadiran pria tersebut yang ternyata adalah teman mereka, ketiga perempuan itu bangkit dan memaksa si pria duduk di sofa, membukai baju dan celananya serta membagi tugas untuk mengerjai si pria itu. Perempuan pertama mencium bibir dan leher si pria, yang kedua menjilati dada si pria, sedangkan yang ketiga dengan lembut menciumi penis si pria. Kulirik Henny semakin mendesah dan mendekati tempatku duduk. Ia lalu duduk di sebelah kiriku. Anna yang melihat Henny pindah, mendekati Arie dan duduk di sebelahnya sambil tangan kanannya diletakkan di paha kiri Arie yang tangan kirinya memeluk bahu Anna. Aku memeluk bahu Henny dan tangan kananku kuarahkan mengusap-usap pipi dan bibirnya. Henny memejamkan mata menikmati elusan jari-jariku dan ketika tiba di permukaan bibirnya, jari-jariku bergantian ia isap masuk ke dalam mulutnya. Kubiarkan ia berlaku demikian sambil menurunkan tangan kiriku dari bahunya dan mengelus-elus ketiak kirinya dari belakang dan mencari celah masuk ke tepi payudara kirinya. Henny mendesah. Kulihat Anna merebahkan kepala ke bahu Arie. Arie mendekatkan pipinya hingga bersentuhan dengan pipi Anna dan perlahan-lahan ia labuhkan ciuman pada bibir Anna. Anna membalas dengan mesra sambil merintih perlahan. Tayangan film tidak lagi menjadi pusat perhatian kami, tetapi sempat kulirik bagaimana si pria bule tadi mulai menancapkan penis pada vagina perempuan yang menjilati penisnya sambil mencium vagina perempuan lain yang berdiri di depannya, sementara tangan kanannya merabai vagina perempuan ketiga. Rintihan mereka semakin meninggi.
Henny semakin mengerang ketika jari-jariku masuk ke dalam cup BH-nya dan mencari putingnya. Jari-jarinya mengarah ke celana panjangku dan membuka ikat pinggang dan risleting dengan cepatnya. Kugerakkan pinggang dan pinggulku hingga celana panjang dan celana dalamku turun ke lantai. Kaos yang kupakai kubuka sambil membuka baju atas Henny dan meraba ikatan BH-nya di belakang. Kulepaskan baju dan BH-nya hingga terpampanglah payudaranya yang indah. Arie kulirik tengah melakukan aksi serupa denganku, membuka gaun Anna, yang ternyata tidak mengenakan BH dan celana dalam di baliknya, hingga Anna sudah langsung telanjang bulat. Dengan bertelanjang, Anna duduk di pangkuan Arie, menghadap ke arahnya dan terus berciuman sambil kedua tangannya memeluk leher Arie. Arie menciumi bibir, wajah dan leher Anna yang semakin menggeliat-geliat di pangkuan Arie. Jari-jari Anna mulai bekerja membukai kancing baju Arie.
Kuarahkan wajahku ke leher dan dada Henny yang terbuka. Ia mendesah dan rebah di sofa panjang. Kuarahkan ciuman pada kedua payudaranya, mengulum putingnya bergantian sambil sesekali melakukan sedotan maut. Setelah puas, kujilati perutnya yang putih hingga turun ke pusar dan pangkal pahanya. Kulihat tidak ada lagi bulu-bulu halus di situ, agaknya ia baru cukur. Lidahku turun ke sela-sela pahanya, mengait-ngait daerah seputar labianya, lalu turun ke dekat anusnya yang harum. Henny mengerang sambil meremas-remas rambutku. “Gus, ahhhh ….. sshhhhh …. yaaahhh terussss sayang …..” Kujilati permukaan anusnya hingga ia menggeliat dan mengangkat pinggulnya agak tinggi karena rasa geli bercampur nikmat. Arie sedang menciumi payudara Anna dan mengulum putingnya dengan berbagai irama. Kulihat terkadang ia melakukan ciuman lembut, tetapi tak lama kemudian sedotan ganas dan cepat, hingga Anna merintih-rintih, “Riiiii …. ooookkkhhh jangan siksa aku dong sayangggg….. Akkhhhh nikmat …. yyaaa, gitu …. terussss …. Oooohhhhhh”
Kulihat klitoris Henny yang semakin tegang. Pinggulnya ia angkat-angkat seakan-akan memintaku segera memesrai vaginanya. Kuarahkan lidahku pada klitorisnya dan melakukan jilatan-jilatan tanpa menyentuh vaginanya. Ia mengerang. Puas memperlakukannya demikian, kuarahkan lidahku ke sela-sela labianya dan mulai melakukan usapan-usapan lidah dengan lembut. “Ooooooohhhhh ….” desisnya panjang. Kini lidahku bermain bersamaan dengan bibirku mencium dan menjilat bahkan menyedot klitoris dan labianya lalu lidahku menerobos liang vaginanya membuat pantatnya kembali terangkat. Di sofa sebelah kulihat Arie masih menyedot payudara Anna sambil membuka bajunya sendiri. Kuamati payudaranya yang kecil, tetapi indah, putingnya tampak menonjol di atas bongkahan payudara mungilnya. Arie menarik tangan Anna rebah di karpet. Setelah membaringkan Anna, ia tempatkan tubuhnya di atas Anna dalam posisi terbalik. Kini mereka melakukan style 69. Kulihat lidah Arie dengan cepatnya bergerak liar di vagina Anna dan ketika melakukan isapan pada labia Anna, desahan Anna berubah menjadi jeritan-jeritan kecil.
Henny yang sudah tak kuasa menahan nafsunya kemudian membuka pahanya lebar-lebar dan menarik pinggulku agar mengarahkan penisku ke dalam vaginanya. Aku yang masih ingin bermain lebih lama tidak serta-merta mengikuti kemauannya, setelah kuarahkan kepala penisku ke permukaan vaginanya, kupegang penisku pada pangkalnya dan kugesek-gesekkan pada labianya, mula-mula perlahan-lahan, tetapi kemudian semakin cepat. Kumasukkan hingga sebatas leher penisku ke dalam vaginanya, meskipun tahu ia sudah ingin lebih daripada itu. Henny merintih-rintih. Kuteruskan gerakanku sambil sebelah tangan merabai payudaranya yang sintal. Rintihan kenikmatan tak lama kemudian keluar dari mulut Henny. “Ahhhh…. Gus …… kamu jahat, aku sudah keluar nich …. Oooouukkkhhhhhhh …..” Setelah itu ia terkulai lemas sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah.
Kuperhatikan Anna yang ada di bawah Arie. Kudekati mereka berdua. Tangan mereka kutarik dan kuajak ke kamar tidur, seorang di sebelah kiriku dan yang lain di sebelah kananku; sedangkan Henny mengikuti di belakang kami setelah mematikan film tadi. Anna kurebahkan di atas ranjang dalam posisi terlentang. Kutarik kedua paha Anna semakin melebar dan menaruhnya ke pundakku, sedangkan Arie kembali menempatkan diri di atas Anna melanjutkan aksinya. Arie menarik penisku semakin mendekati vagina Anna seraya menciumi penisku yang masih lengket oleh cairan vagina Henny. Ia kulum kepala penisku dan beberapa kali memasukkan penisku ke dalam mulutnya hingga melesak ke tenggorokannya. Setelah mengelus-elus kedua labia Anna dengan kepala penis, kudesakkan penisku memasuki liang vagina Anna. Anna merintih semakin kuat, apalagi saat Arie meneruskan aksinya menjilati klitorisnya. Arie pun kudengar mendesah, mungkin karena diserang habis-habisan, Anna semakin ganas menjilati vagina Arie. Henny yang sudah melepaskan lelah melihat aksi kami bertiga, lalu mendekati Anna. Diciuminya bibir Anna, lehernya dan kemudian berhenti di payudara Anna sambil jari-jarinya bermain pada vagina Arie yang terus dilumat oleh Anna. Desahan Anna dan Arie bercampur dengan eranganku menuju puncak kenikmatan. Gerakanku semakin cepat dalam vagina Anna. Niatku tidak menyemprotkan sperma di vaginanya, sebab ingin merasakan vagina Arie. Begitu kurasakan vaginanya semakin kuat mengunci penisku, kutarik penisku dan kuganti dengan jari-jariku. Walaupun ia sempat protes, tetapi tak kuasa melawan, sebab lidah Arie yang masih menindih tubuhnya dari atas dan aksi Henny pada payudaranya membuatnya tak bisa melepaskan diri dari himpitan kami. Jari telunjuk dan tengah tangan kanan kumasukkan masuk keluar vagina Anna dan kurasakan denyutannya semakin menguat, lalu dengan suatu jeritan panjang, Anna mencapai orgasme.
Puas melihat dua perempuan sudah mencapai orgasme, kudekati belakang Arie yang masih menjilati cairan Anna. Kuusap-usap pantatnya dan kugelitik vaginanya yang masih diciumi oleh Anna dari bawah. Penisku kumasukkan tanpa kesulitan yang berarti. Jepitan vaginanya terasa begitu nikmat. Basahnya vaginanya membuat penisku masuk keluar dengan mudah. Erangannya semakin kuat diserang vaginanya dari bawah oleh Anna sedangkan dari atas penisku merojok masuk dengan doggy style. Henny yang semula mengerjai payudara Anna, kini mencari mangsa baru. Ia rebah di samping tubuh Anna searah dengan Arie yang ada di atas mereka lalu meremas-remas payudara Arie yang kecil sambil menciumi putingnya dengan sedotan-sedotan ganas. Merasakan serangan dari tiga jurusan, Arie tak mampu bertahan. Aku pun merasakan hal yang sama. “Gus, aku mau dapet niccchhhhh ……” desisnya. “Ya sayang ….. aku juga. Bareng ya say…..!” geramku sambil mempercepat ayunan pantat menghantam pantatnya. Penisku masuk amblas sedalam-dalamnya dan kurasakan denyutan vaginanya beberapa kali sebelum menyemburkan cairan hangat pada penisku. kurebahkan tubuhku di atas punggung Arie. Anna menggeser tubuhnya ke samping dan berpelukan dengan Henny. Kemudian kami berempat berbaring terlentang dalam keadaan telanjang sambil menenangkan diri setelah perjalanan menuju puncak kenikmatan.
an merintih. Lama-kelamaan rintihan Anna berganti menjadi jeritan seperti biasanya jika ia akan mencapai orgasme. Kuisap puting payudaranya sambil terus meremas-remas. Henny yang melihat kami bertiga kembali terangsang. Ia dekati tubuhku yang terlentang di dekat Anna dan menciumi penisku kembali. Gerakan Arie semakin kencang dan membuat Anna kembali menjerit penuh kenikmatan, “Ooooooukkkkhhh Riiiii, aku dapet sayangggg……”
Arie tersenyum penuh arti kepadaku sambil menghentakkan dildo yang dipakainya sekuat-kuatnya ke vagina Anna. Tubuh Anna kemudian rebah tengkurap. Arie bangkit mendekatiku dan menciumi bibirku, “Agus sayang, kamu mau memenuhi nggak? Aku mau kamu turuti keinginanku. Pokoknya kamu pasti nikmat deh!” katanya. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya.
sangnya dengan mengikat talinya pada pinggangnya kemudian ia mengambil sebotol kecil cairan dan meneteskan beberapa tetes ke dildo yang ia kenakan dan naik kembali ke atas ranjang.
Lidah Henny terus menjilati perut dan kini turun ke pahaku. Sementara jilatan Anna tidak lagi hanya pada pangkal pahaku, tetapi melumat kepala penis dan testisku. Sesekali ia memasukkan seluruh penisku hingga pangkal penis dan ujungnya masuk mendesak tenggorokannya. Henny menarik belakang kepala Anna dan berciuman. Lama mereka berciuman, lalu keduanya sama-sama mencium dan menjilati penisku. Aku merasa geli dan nikmat atas perlakuan keduanya. Kadang-kadang yang satu menjilati penisku sedangkan yang lain memasukkan testisku ke dalam mulutnya, demikian bergantian. Arie berjongkok di sela-sela pahaku yang terpentang lebar dan mendekatkan penis buatan yang ada di depan pahanya ke arah analku. “Ah, jangan Riii, ntar nggak muat, sayang!” protesku.
“Kata siapa nggak muat? Penismu aja kudengar sudah beberapa kali masuk anal Henny dan Anna. Masak yang lebih kecil dari penismu tak bisa masuk analmu sendiri?” katanya sambil menggesek-gesekkan kepala dildo tersebut pada lubang anusku.
Aku hanya mampu mendesah ketika kepala dildo itu mulai ia gerak-gerakkan di lubang analku. Apalagi ketika dildonya semakin masuk berkat pelumas yang ia oleskan pada dildo tersebut dan kini sebatas lehernya bergerak masuk keluar analku. Pelan-pelan rasa hangat bercampur nikmat memenuhi kepalaku. Sementara penisku bergantian dilumat oleh Henny dan Anna. Makin lama dildo yang dipakai Arie masuk makin dalam ke analku. Aku merasakan suatu kenikmatan tersendiri. Terlebih setelah kulihat Anna mengangkang di atas perutku dan menempatkan vaginanya tepat di atas penisku. Kemudian ia menurunkan tubuhnya hingga penisku melesak masuk merambah ke dalam vaginanya. Aku semakin dikuasai oleh nafsu dikerjai oleh Anna dan Arie. Henny melihat ulah Anna dan merabai payudara Anna sambil terus menciumi dadaku dan bibirku. Lalu Anna mengangkat vaginanya dan mencoba memasukkan penisku ke dalam analnya. Beberapa kali mencoba, akhirnya penisku dapat menerobos liang analnya.
“Addduuhhhh… aaakkkhh … nikmattttnyaaa ….” desis Anna sambil mempercepat ayunan pinggulnya naik turun di atasku.
Tekanan penisku pada analnya ditambah dengan kenikmatan tekanan dildo Arie pada analku membuatku mengerang-erang nikmat. Kira-kira lima menit Anna memasuk-keluarkan penisku ke dalam analnya, kembali ia memindahkan penisku ke dalam vaginanya dan bergerak naik turun di atas perutku semakin cepat. Karena berada di atas tubuhku, beberapa saat kemudian Anna menjerit karena telah mencapai orgasme.
“Guuussss…. aaauukhhhh … oooohhhh … aku dapat sayang ….” Tubuhnya beringsut rebah di sampingku dan digantikan oleh Henny yang keranjingan melihat penisku yang masih tegang.
Henny mencoba memasukkan penisku ke dalam analnya, tetapi tidak berhasil. Ia lumuri penisku dengan ludahnya lalu kembali memasukkan penisku. kini perlahan-lahan penisku masuk ke dalam analnya. Anehnya aku belum orgasme diperlakukan ketiga perempuan itu. Puas mengerjai penisku dengan analnya beberapa saat, Henny menarik tubuhnya dan memegang penisku serta memasukkannya ke dalam vaginanya. Ia bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan; terkadang ia melakukan gerakan memutar di atas perutku hingga gesekan liang vaginanya begitu hebat memilin penisku. Henny merintih dan beberapa saat kulihat matanya membeliak dan gerakannya semakin tak beraturan. Kedua tangannya meremas-remas payudaranya sendiri dan memilin putingnya. Anna hanya memandangi kami sambil berbaring. Arie semakin mempercepat gerakannya maju mundur sambil menarik kedua pahaku tepat di atas kedua pahanya. Gerakan Arie semakin hebat hingga kurasakan tak lama lagi akan orgasme. Kuangkat pinggulku agak naik. Dengan suatu sentakan tajam, Arie menghunjamkan dildonya dibarengi dengan gerakan tubuh Henny naik turun di atas penisku, hingga akupun menjerit karena merasakan orgasme ganda baik pada anal maupun penisku. Dengan cepat Henny berdiri dan sebelum penisku memuntahkan pelurunya, ia sudah mengulum penisku dengan kuat dan isapannya membuat penisku melontarkan sperma sangat banyak ke dalam mulutnya. Anna yang melihat hal itu, tak mau ketinggalan, cepat ia berlutut di sampingku dan turut menjilati penisku dan sisa-sisa spermaku pada mulut Henny sambil sesekali berciuman dengannya di atas penisku. Arie berdiam diri membiarkan dildonya masih tertancap di analku yang berdenyut-denyut menjepit dildonya. Aku terkulai lemas diikuti oleh Anna dan Henny di sebelah kiri dan kananku. Tak lama kemudian, Arie berbaring di dekat kami setelah melepaskan dildo yang ia pakai dan menciumi bibirku. Anna dan Henny kulihat berpelukan sambil berciuman. Lalu ketiga perempuan itu berpelukan sambil berciuman dan memainkan lidah mereka sebelum rebah berbaring di dekatku.
Kami tertidur beberapa saat. Lewat tengah malam. Aku terbangun waktu merasakan elusan jari-jari Arie pada wajahku. Ia berbisik di telingaku sambil lidahnya bermain membelai daun telingaku dan jari-jarinya mengusap dada dan perutku yang telanjang.
“Agus sayang, kamu mau membantuku memuaskan kedua teman kita ini?”
“Maksudmu gimana Ri,” tanyaku.
“Ntar kusetubuhi mereka bergantian, tapi kamu pake doggy style kerjai aku. Gimana, mau kan, sayang?” tanyanya sambil lidahnya ia julurkan membelai-belai bibirku.
“Baik tuan putri, hamba siap menjalankan titah tuan putri,” candaku sambil mengisap lidahnya kuat-kuat.
“Duuhhh, pelan-pelan Gus, bisa putus lidahku,” jeritnya sambil melepaskan lidahnya dari jepitan bibirku.
Kedua teman Arie masih lelap dalam mimpinya. Arie perlahan-lahan mendekati Anna dan merabai betis dan paha Anna. Anna masih memicingkan mata. Semakin lama jari-jari Arie naik hingga pangkal paha Anna. Sementara aku mendekati kepala Anna dan menciumi wajahnya. Kucoba mengembuskan nafas beberapa kali di wajah Anna, tetapi matanya tetap terpejam. Kuarahkan bibirku pada bibir Anna dan menciumnya lembut, lalu lidahku kujulurkan memasuki rongga mulutnya. Anna entah sadar atau tidak membuka sedikit rongga mulutnya memberi ruang bagi lidahku memasuki mulutnya dan mengait-ngait langit-langit mulutnya. Beberapa saat kemudian kuamati kelopak mata Anna membuka dan senyumnya merekah melihatku menciuminya. Ia membalas pilinan lidahku dan menjulurkan lidahnya untuk kuisap. Lama kami berpagutan memainkan bibir dan lidah kami. Sementara jari-jari Arie kuperhatikan sekilas mulai bermain di sela-sela pangkal paha Anna. Desahan Anna terdengar ketika klitorisnya kembali dielus-elus oleh Arie. Apalagi sewaktu kuremas-remas payudaranya dan menekan-nekan lembut puting payudara Anna sedangkan Arie membungkuk dan menciumi vagina dan klitorisnya, Anna semakin kuat mengisap lidahku. “Ahhh, kalian berdua nakal, orang tidur digangguin,” rintihnya sambil mendesis seperti orang makan cabe.
Entah kapan Arie memakai kembali dildonya, kulihat ia mulai mengulas-ulas permukaan vagina Anna dengan kepala dildonya. Anna semakin menaikkan volume rintihannya. Kulirik ke arah Henny. Ia masih tertidur, tak terganggu oleh perbuatan kami bertiga.
Arie menarik kedua paha Anna mendekati tubuhnya, sehingga hal itu membuat vagina Anna semakin mendekati dildonya. Kulihat dildo tersebut mulai masuk hingga batas lehernya ke dalam vagina Anna. Anna menggeliat-geliatkan pinggul dan menurunkan tubuhnya agar vaginanya semakin dalam dimasuki dildo Arie. Arie memajukan tubuhnya sambil meletakkan kedua paha Anna menjepit pinggulnya. Anna mendapatkan sambutan mesra demikian, menjepit pinggul Arie semakin kuat, terlebih setelah payudara dan putingnya kuciumi dan kuisap. Geliat tubuhnya semakin tak menentu bagaikan cacing kepanasan. Desahnya berubah menjadi rintihan dan sesekali jeritan lirih keluar dari bibirnya. Kuisap putingnya secara bergantian sambil meremas-remas kedua payudaranya yang sekal. Arie semakin mempercepat ayunan pinggulnya, hingga membuat Anna terpekik-pekik.
“Akkhhh … ooohhhh …. adddduuhhh … yaaahhh terusss Riiii, yaaa … gitu sayang ….”
Arie kulihat melakukan gerakan maju mundur sambil memasuk-keluarkan dildo ke dalam vagina Anna, mata Arie agak terpejam dan bibirnya digigitnya. Melihat hal itu, aku beringsut-ingsut ke belakang tubuh Arie. Kucondongkan tubuhnya hingga agak rebah di atas tubuh Anna. Anna yang merasakan tubuh Arie kini tepat di atas tubuhnya segera menyambut dengan menyambar bibir Arie. Mereka berciuman dengan ganasnya. Kedua tangan Arie bertumpu pada kasur, sedangkan kedua tangan Anna yang bebas meremas-remas kedua payudara Arie hingga kini Arie turut mendesah bercampur desahan Anna. Kuelus-elus pantat Arie dan kuraba ke arah depan, mencari klitorisnya dari belakang. Kurasakan kelembaban telah terjadi di vagina dan klitorisnya. Tanpa menunggu lagi, kuarahkan penisku dari belakang ke vagina Arie. Dasar sudah basah, vagina tersebut tanpa kesulitan telah dimasuki penisku dengan mudahnya. Arie merintih, “Ooookkhhh …. aaahhh….. terus Guuusss…. yahhh …. ayoo sayang …..”
Kupegangi kedua bongkahan pantat Arie sambil menghunjamkan penisku sedalam-dalamnya hingga kepalanya terdongak, “Akkkhhhh …. nikmatnya …..!” rintihnya dengan suara lirih.
Anna semakin kuat merintih pertanda tak lama lagi ia akan mendaki puncak kenikmatan kembali. Arie mempercepat gerakannya demi melihat reaksi Anna yang semakin menghebat. Anna tidak hanya meremas payudara Arie, tetapi kini menciumi dan menyedot putingnya. Beberapa kali Arie memundur-majukan pantatnya agak lambat, tetapi tekanannya semakin dalam memasuki vagina Anna dan dengan suatu hentakan kuat, ia masukkan dildonya sedalam-dalamnya hingga Anna memekik hebat sambil menjepit pinggul Arie dengan kedua pahanya.
“Aahhhhh …. sshshhhhh …. oooouggghhh … aaaakkkkkhhhhhh.”
Arie masih terus menghunjamkan dildonya beberapa kali hingga kembali Anna menjerit, “Riii ….. udah sayang …. aku udah dapett …. ooougghhh … ngilu nich!”
Arie mencabut dildonya, sehingga gerakannya membuatku terdorong ke belakang.
“Ntar Gus, kita cari sasaran berikutnya,” katanya sambil bergerak mengarah ke tubuh Henny yang sudah membuka mata. Dengan suatu gerakan cepat, Arie menarik kedua kaki Henny dan membalikkan tubuh Henny hingga menelungkup. Henny sempat protes, “Gue mau diapain nich, sabar dong Ri, pelan-pelan ….”
Arie membentangkan kedua belah paha Henny hingga membuka lebar dengan posisi menelungkup. Lalu Arie menundukkan kepala menciumi pantat Henny. Lidahnya turut bekerja mencari lubang anal Henny. Kuperhatikan mereka berdua sambil mengurut-urut penisku yang melembek kembali setelah bertugas menusuk vagina Arie tadi. Anna kulihat terbaring dengan mata setengah terpicing. Aku tahu ia tidak tidur tetapi memperhatikan kami bertiga, menantikan aksi kami berikutnya. Beberapa kali Arie menorehkan air ludah dari mulutnya ke vagina Henny yang kupikir belum begitu basah. Aku tahu Arie sudah tidak sabaran ingin segera menusuk vagina Henny sebab ia sendiri belum orgasme. Aku mendekati mereka dan menciumi pundak dan bibir Henny serta meremas-remas payudaranya yang tertekan oleh tubuhnya, hingga membuatnya mendesah dan merintih. Arie tersenyum melihat aksiku membantunya menghantar temannya ke gerbang kenikmatan.
Tak lama kemudian Arie meminta Anna menggeser tubuhnya agak ke samping dan membaringkan tubuhnya terlentang di samping Henny, hingga Arie berada tepat di sebelah kiri Henny. Lalu ia menarik lengan Henny sedemikian rupa hingga tubuh Henny tertarik ke arahnya dan menimpa dirinya. Kini Arie dalam posisi terlentang tepat ditindih oleh tubuh Henny yang menelungkup di atasnya. Tangan Arie meraba dildo yang ia kenakan dan digerakkannya mendekati vagina Henny. Henny yang sudah semakin terangsang tidak menolak dan membantu gerakan Arie dengan semakin mendekatkan vaginanya hingga tepat berada di depan dildo Arie. Pelan-pelan dildo tersebut masuk ke dalam vagina Henny hingga membuat Henny mendesah. “Ahhh …. oooohhhh …. ssshhhhh …. enak Riiii…. terusin sayang ……”
Arie memberi tanda kepadaku agar menuju ke belakang tubuh Henny. Aku paham maksudnya dan segera menggeser tubuhku menempatkan diri persis di belakang Henny. Kedua lututku bertumpu tepat mengangkangi kedua paha Henny yang menjepit kedua paha Arie, lalu dengan telapak tanganku kutadahkan air ludahku yang kuusap-usapkan pada penisku hingga basah, sedikit air ludah kutaruh pada lubang anal Henny sambil mengelus-elusnya membuat geliat Henny semakin tak menentu diiringi rintihannya. Kepala penis kuarahkan pada liang analnya. Beberapa kali tusukan sempat gagal, tetapi kemudian penisku mulai memasuki analnya disertai desahan nikmat dari bibir Henny, “Pelan-pelan Guuuussss, sakittt sayang ….”
Kucabut sebentar penisku, lalu kuberi air ludah lagi, kemudian kembali kutusuk analnya perlahan-lahan sambil menggumam, “Masih sakit sayang?”
“Sshhhh …. aaakkhh …. yaaahhh … sekarang udah enak say ….” rintihnya. “Ahhh kalian berdua nakal ….”
Kumaju-mundurkan pantatku sehingga penisku dengan leluasa masuk keluar anal Henny. Mulut Henny sesekali bertemu dengan mulut Arie. Mereka berciuman dengan panas. Tangan Arie sesekali memeluk punggung Henny. Kedua tangan Henny merabai tubuh Arie mulai dari pundak hingga pinggulnya. Aku memegangi kedua bongkah pantat Henny sambil melakukan tusukan demi tusukan. Diserang demikian rupa dari dua arah, membuat Henny tidak mampu bertahan lama, dengan suatu erangan dahsyat ia mencapai orgasme, “Ouuuggghhh ….… aaaakkkkhhh ………..” Melihat ia akan mencapai orgasme, penisku kutusukkan sedalam-dalamnya ke anal Henny sedangkan Arie kulihat agak mengangkat pinggulnya agar dildonya masuk lebih dalam ke vagina Henny.
Anna yang melihat rekannya mencapai orgasme langsung bangkit dan mencium bibir Henny sementara kedua payudara Henny habis dilumat oleh Arie secara bergantian.
Arie yang belum mencapai orgasme segera kuciumi bibirnya sambil menolakkan tubuh Henny agar turun dari atas tubuh Arie. Kedua pahanya kuangkat dan kutaruh kedua kakinya bertumpu pada pundakku. Lalu penisku kutempatkan pada vaginanya setelah membukai pengikat dildo pada pinggangnya. Bulu-bulu vaginanya yang agak lebat tidak menjadi penghalang ketika penisku memasuki liang kenikmatannya. “Ahhhhh, enakkkk Gussss… gila kamu …. bisa mati aku…. penismu luar biasa kuatnya ….” desahnya sambil menggelinjang-gelinjang. Aku hanya tersenyum sambil memegangi kedua belah pahanya dan memperkuat hunjaman penisku pada vaginanya. Sesekali jari-jariku kuarahkan mencari klitorisnya dan memberikan gesekan-gesekan mesra. Ia semakin kuat meracau, “Guuussss….. enakkkkkk gilaaaaa ……. Adddduhhh Mama, beta bisa mati?” rintihnya dengan dialek Ambon. Dasar tenaganya pun cukup kuat, secara tiba-tiba ia menolakkan tubuhku hingga kini ia berada di atasku. Dengan posisi di atasku, ia menaik-turunkan tubuhnya bak penunggang kuda sedang memacu kudanya. Henny dan Anna menatap kami berdua sambil tersenyum dan saling berciuman. Lalu dildo yang tadi dipakai Arie, diambil oleh Henny dan kini ia arahkan pada anal Arie.
“Sekarang terimalah pembalasanku …” bisik Henny sambil memasukkan dildo tersebut.
Arie tidak bisa mengelak dari pembalasan temannya dan bahkan semakin memperkuat goyangan tubuhnya. Sekali-sekali ia menggoyangkan tubuhnya ke kanan kiri hingga penisku serasa dibetot di dalam vaginanya. Lain kali ia gerakkan tubuhnya naik turun atau maju mundur, sehingga kurasakan sensasi luar biasa pada penisku.
“Kita kerjai mereka berdua Hen,” kudengar Anna berkata sambil berdiri dan mengambil dildo yang lain, warnanya sempat kulihat, ungu dengan bentuk sedemikian rupa sehingga urat-urat pada batangnya tampak menonjol. Anna mengambil minyak dari dalam laci dan dilumurinya dildo tadi lalu naik kembali ke atas ranjang, tetapi berbeda dengan Henny, ia kini mengarahkan dildo yang ia pegang ke liang analku. Tak lama kemudian kurasakan dildo tersebut memasuki liang analku. Mula-mula terasa agak sakit, sebab lebih besar daripada yang dipakai oleh Arie, tetapi karena pelumas yang sudah dilumuri pada dildo tersebut, maka dildo itu berhasil melesak masuk ke dalam analku. Anna memasukkan masih sedikit ke dalam analku, tetapi begitu ia melihat Arie semakin kuat menggerakkan pinggulnya akibat hunjaman penisku dan dildo yang dipegang Henny masuk-keluar analnya, ia terangsang untuk memasukkan dildo ke dalam analku semakin dalam. Rasa panas akibat masuknya dildo itu ke dalam analku tidak kupedulikan lagi, sebab sudah dikuasai oleh rasa nikmat yang tak lama lagi akan melanda diriku. “Rii, aku hampir dapat sayang …. aaaakhhh …” erangku sambil menggeliat-geliat di bawah tubuh Arie.
“Ya sayang, kita bareng ya …. Ganas betul dua orang ini mengerjai kita…. ooohhh nikmatnya …..… ” desah Arie sambil menghentakkan tubuhnya lebih kuat lagi dan dengan satu hantaman kuat vaginanya menancap dalam-dalam menelan seluruh penisku hingga kurasakan testisku agak sakit tertekan oleh kedua belah pahanya. “Aaaahhhhh ….. ooooooouuggghhh …. ssshhhh ….. uuuuuhhhh …..” jeritnya sambil melepaskan cairan kenikmatan yang kurasa membasahi penisku dalam vaginanya. Merasakan denyutan nikmat meremas-remas penisku, tak kuasa lagi kutahan semprotan spermaku begitu kuat memasuki vagina Arie. Aku mengerang dahsyat dibarengi kenikmatan oleh keluarnya spermaku dan hunjaman dildo yang dipegang Anna pada analku. Kami berdua berpelukan sambil tetap merapatkan badan satu sama lain. Dildo yang dipegang Anna dan Henny masih tetap berada pada tempatnya. Kemudian keduanya bertepuk tangan, “Hebat, hebat, kini kita bisa tentukan siapa pemenang yang paling hebat.” “Plok, plok, plok,” bunyi tepukan tangan mereka. Kuciumi bibir Arie. Arie balas mencium sambil menggigit mesra bibirku. “Kamu hebat Gus, baru kali ini kutemukan lawan yang seimbang. Terima kasih sayang ….” pujinya berbisik di telingaku. Penisku masih sempat mendapatkan ciuman dan lumatan dari lidah dan bibir Anna dan Henny. Setelah itu, mereka menjilati vagina Arie yang basah kuyup oleh spermaku dan cairannya sendiri.
Keringat meleleh membasahi sekujur tubuh kami berdua. Anna mengambil handuk kecil dan disekanya tubuhku dan tubuh Arie. Kami berempat kembali terbaring sambil tersenyum menenangkan nafas yang sempat gemuruh memenuhi dada.
Kulirik ke arah dinding, jarum jam sudah menunjukkan pukul 5 dinihari. Anna merebahkan tubuhnya di atas tubuhku yang terlentang, sementara Henny yang bertubuh lebih kecil memeluk Arie dalam posisi miring. Kami pun tertidur lelap hingga bangun ketika cahaya matahari mulai terasa memasuki kamar tersebut.





